Sendiri merupakan novel karya Tere Liye yang mengangkat tema kehilangan, kesepian, dan penerimaan terhadap takdir. Novel ini menghadirkan kisah yang berbeda dari karya-karya Tere Liye sebelumnya karena memadukan drama kehidupan dengan unsur fantasi yang penuh misteri. Melalui tokoh utamanya, pembaca diajak merenungkan arti cinta, perpisahan, dan kehidupan setelah kehilangan orang yang paling dicintai.
Cerita berpusat pada Bambang, seorang pria berusia tujuh puluh tahun yang baru saja kehilangan istrinya, Susi. Selama puluhan tahun mereka menjalani kehidupan bersama, berbagi suka dan duka sebagai pasangan yang saling melengkapi. Namun suatu malam, Susi meninggal dunia secara tiba-tiba dalam tidurnya. Kepergian itu meninggalkan luka mendalam yang membuat Bambang kehilangan semangat hidupnya.
Hari-hari setelah pemakaman terasa sangat berat. Bambang lebih banyak menghabiskan waktu sendirian di teras rumah dengan tatapan kosong. Ia sulit tidur, kehilangan selera makan, dan tidak lagi menikmati aktivitas yang dahulu membuatnya bahagia. Anak-anaknya berusaha merawat dan menghiburnya, tetapi kesedihan yang dirasakan Bambang begitu besar hingga sulit dihilangkan.
Di tengah kesedihan tersebut, Bambang mulai mengalami berbagai kejadian aneh. Ia bermimpi hal yang sama berulang kali, mendengar pesan-pesan misterius, dan melihat tingkah laku hewan peliharaan yang tidak biasa. Semua itu membuatnya percaya bahwa Susi sedang berusaha menyampaikan sesuatu kepadanya dari tempat yang berbeda.
Keyakinan tersebut membuat Bambang memulai pencarian untuk menemukan jawaban. Meskipun dianggap aneh oleh anak-anaknya, ia tetap bersikeras bahwa ada sesuatu yang belum selesai. Dengan kecerdasan dan rasa penasarannya, Bambang mengikuti berbagai petunjuk yang mengarah pada sebuah rahasia besar yang tersembunyi di tempat yang memiliki kenangan penting dalam hidupnya bersama Susi.
Pencarian itu akhirnya membawanya ke sebuah dunia misterius yang disebut Dunia Bawah. Di tempat tersebut, Bambang mengalami hal yang mustahil terjadi di dunia nyata. Ia kembali menjadi anak berusia dua belas tahun dan harus menjalani petualangan yang penuh tantangan. Dunia baru itu dihuni oleh berbagai makhluk, tempat-tempat aneh, dan aturan yang sama sekali berbeda dari dunia yang ia kenal.
Di Dunia Bawah, Bambang bertemu sejumlah tokoh yang membantunya memahami situasi yang sedang terjadi. Ia mengetahui bahwa dunia tersebut sedang berada dalam ancaman besar akibat kekuatan kegelapan yang ingin menguasai segalanya. Untuk menemukan jawaban yang dicari, Bambang harus ikut dalam sebuah perjalanan berbahaya yang melibatkan teka-teki, rahasia waktu, dan berbagai ujian yang menguras keberanian.
Perjalanan tersebut membawanya mencari sebuah mesin waktu yang hanya dapat diakses setelah membuka beberapa segel misterius. Setiap segel memiliki tantangan tersendiri yang harus diselesaikan. Bersama teman-teman barunya, Bambang menghadapi berbagai rintangan sambil berusaha menghindari kejaran kekuatan gelap yang terus memburu mereka.
Semakin jauh petualangan berlangsung, semakin banyak kebenaran yang terungkap. Bambang mulai memahami hubungan antara masa lalu, masa kini, dan berbagai pilihan yang pernah ia buat dalam hidupnya. Ia juga menyadari bahwa tidak semua kehilangan dapat diperbaiki atau diulang kembali. Ada hal-hal yang memang harus diterima sebagai bagian dari perjalanan hidup manusia.
Pada akhirnya, Bambang memahami bahwa cinta sejati tidak diukur dari seberapa lama seseorang bertahan di samping kita, tetapi dari kenangan, kebaikan, dan pelajaran yang mereka tinggalkan. Sendiri menghadirkan kisah yang menyentuh tentang kehilangan, harapan, dan keberanian untuk melanjutkan hidup meskipun orang yang paling dicintai telah pergi untuk selamanya.
Novel Sendiri mengajarkan bahwa kehilangan adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Setiap orang pasti akan menghadapi perpisahan dengan orang-orang yang dicintainya. Meskipun terasa menyakitkan, kehilangan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses untuk tumbuh dan belajar menerima kenyataan.
Selain itu, novel ini mengingatkan bahwa cinta sejati tidak pernah benar-benar hilang. Kenangan, kebaikan, dan kasih sayang yang pernah diberikan seseorang akan tetap hidup dalam hati orang-orang yang ditinggalkannya. Melalui perjalanan Bambang, pembaca diajak memahami bahwa menerima takdir dan melepaskan dengan ikhlas sering kali menjadi bentuk cinta yang paling tulus.