Opini

Mengenal Lebih Dekat al – Habib Abdullah bin Alawi al- Haddad

Di sini saya akan mempresentasikan buku tentang mengenal lebih dekat Al Habib Abdullah Bin Alawi Al Haddad, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda di dalam hadisnya, bahwa dalam setiap 100 tahun akan timbul seorang yang akan mengadakan pembaruan dan pembawa pembaruan tersebut dinamakan mujaddid, pada saat itu Al Habib Abdullah bin Alwi Haddad adalah seorang mujaddid di masanya, sebelum ayahnya itu menikah Ayah beliau Habib Alwi Bin Muhammad Al haddar berkunjung ke rumah Habib Ahmad di kota syiib meminta doa kepada Habib Ahmad lalu Habib Ahmad menjawab: Aula duka auladuna fihim Al Barokah artinya: putra-putra mu putra putra kami juga di dalamnya terdapat Barokah. kemudian, Habib Alwi itu heran dan berkata di dalam hatinya aku tidak mengerti ucapan Habib Ahmad, tapi setelah Putraku lahir, banyak berbagai tanda-tanda kewalian dan kejeniusan, beliau Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad lahir di desa Sabir di pinggiran Kota Tarim Hadramaut, beliau dilahirkan pada malam Kamis tahun 1634 Masehi. ketika Habib Abdullah itu dilahirkan kedua matanya itu tidak dapat melihat sejak usia dini, namun keadaan tersebut tidak memutuskan semangatnya di dalam menuntut ilmu agama dan di masa kecilnya, beliau isi dengan macam-macam ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, sejak kecil beliau termotivasi untuk menimba ilmu dan gemar ibadah, Beliau pernah berkata : jika aku kembali dari tempat belajarku pada waktu Dhuha aku mendatangi masjid untuk melakukan salat Sunnah 100 rakaat setiap hari. dan di masa kecilnya Beliau juga sudah bisa mengerjakan salat dua ratus rakaat setiap harinya di masjid Bani Alawi dan beliau mohon agar diberi kedudukan sebagaimana kedudukan Habib Abdullah bin Abi Bakar Alaydrus, pernah juga beliau ketika membaca surat Yasin bersama temannya tiba-tiba beliau menangis sejadi-jadinya, sehingga beliau tidak dapat melanjutkan bacaan tersebut, maka dari kejadian tersebut temannya Memaklumi hal tersebut, selain dari itu Habib Abdullah telah diberi kelebihan semenjak kecil. di antara kegemaran beliau setiap pada bulan Sya’ban, beliau itu selalu berziarah kepada makam Nabi Hud, di catatan beliau beliau tersebut berziarah ke makam Nabi Hud sebanyak 30 kali dan semua itu dilakukan pada bulan Sya’ban dan Beliau pernah berkata : barang siapa yang berziarah ke makam Nabi Hud dan dia mengadakan acara Maulid, maka sepanjang tahun ia akan mengalami kebaikan yang bagus. Selain itu, Beliau juga sering berziarah kepada datuk- datuknya yang sudah meninggal pada hari Jumat sore, biasanya beliau lakukan setelah salat ashar dan beliau berharap ingin mendapatkan waktu yang Mustajab seperti yang diyakini oleh kaum Salaf terdahulu dan pendapat ini salah satunya diyakini oleh Fatimah az-zahra putri Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam ia selalu berziarah ke makam Nabi Muhammad pada Jumat sore. pada mulanya beliau itu ziarah itu hanya pada Jumat saja, namun, setelah temannya itu bermimpi bertemu dengan Sayyidina Al Faqih muqaddam, kemudian Beliau berkata: engkau berziarah pada Jumat saja itu tidak cukup, maka setelah mendengar kabar itu kami langsung adakan ziarah pada hari Selasa, jadi beliau itu ziarahnya setiap Jumat dan Selasa. di antara keistiqomahnya Beliau juga sering berpuasa sunnah, kemudian beliau selalu Istiqomah dalam mengikuti jejak kakeknya Beliau juga terkenal kewaraannya dan zuhud, Dermawan, tawakal, sabar, dan kecintaannya dan rindu kepada Allah dan cintanya beliau kepada keluarga Nabi. jadi tidak heran jika allah subhanahu wa ta’ala itu memberinya kedudukan sebagai wali kutub sejak usia masih remaja disebutkan bahwa beliau mendapatkan dudukan Wali kutub lebih dari 60 tahun. ketika Habib Abdullah bertemu dengan Al arif billah Habib Muhammad bin Alwi maka ia minta libas atau pakaian kewalian dari padanya, namun permintaan tersebut tidak segera dikabulkan oleh Sang Guru sebelum mendapatkan izin dari Rasulullah. tidak lama kemudian setelah Habib Abdullah sampai di Kota Tarim maka ia menerima kiriman libas tersebut dari Sang Guru yang dikirim dari kota Mekah ke Kota Tarim kiriman itu Lalu diterima langsung oleh Habib Abdullah Al Haddad pada waktu itu usia Beliau masih berusia 26 tahun kedudukan Wali kutub itu beliau sandang sehingga dirinya wafat, Jadi ia menyandang Wali kutub lebih dari 60 tahun. jadi inti dari cerita tersebut janganlah engkau jadikan kekurangan di dalam dirimu alasan untuk putus asa, beliau mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berziarah kepada para pendahulu agar hubungan batin kita selalu terjaga.

Related posts

IPNU IPPNU GENDING: Sukses melaksanakan Latihan Kader Muda

Imam Ghozali

Harga Tembakau Anjlok Drastis, Petani Mengeluh Merugi

Febriyanti Adelia

Jamu Beras Kencur: Warisan Tradisional yang Menyegarkan dari Probolinggo

Dini Dwi Safitri

Leave a Comment

error: Content is protected !!