Biografi Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi Dengan adanya buku biografi Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, pengarang kitab Maulid Simtud Durar, penulis ingin mengajak kita semua agar tidak hanya membaca kitab yang beliau karang, tetapi juga mengenal lebih dekat sosok pengarang kitab maulid tersebut.Isi buku biografi tersebut menceritakan perjalanan hidup beliau, mulai dari kelahiran hingga beliau mampu mengarang kitab Maulid Simtud Durar. Penulis memulai kisah dari tempat kelahiran beliau. Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi lahir di desa Qosam, sebuah desa yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali bin Kholi’ Qosam. Beliau lahir pada hari Jumat, 24 Syawal 1259 H.Sejak kecil, ayah beliau telah mengajarkan agar beliau senang dan giat mencari ilmu. Karena itu, ketika mencapai usia tamyiz, hatinya telah dipenuhi cahaya Al-Qur’an. Ketika Habib Ali berusia 7 tahun, ayahnya berhijrah ke Mekah bersama tiga anaknya yang sudah dewasa. Namun, Habib Ali tidak ikut serta dan tetap tinggal di Qosam bersama ibunya.Pada usia 11 tahun, Habib Ali pindah ke Seiwun. Saat masih berada di Haramain, guru Habib Ali pernah berpesan kepada ayah beliau agar putranya dipindahkan ke Seiwun supaya dapat memperdalam ilmu fikih dan ilmu-ilmu lainnya. Demi mewujudkan keinginan tersebut, pada tahun 1271 H beliau berhijrah bersama ibunya ke Seiwun, kampung halaman ayahnya, untuk menuntut ilmu agama.Kemudian, pada usia 17 tahun, Habib Ali pergi ke Mekah. Ketika beliau sedang tekun menuntut ilmu, ayahnya memerintahkan beliau untuk pergi ke Hijaz. Maka pada tahun 1276 H, beliau berangkat ke Mekah bersama rombongan haji dan tinggal bersama ayahnya selama dua tahun. Setelah itu, beliau kembali ke Seiwun sebagai seorang alim yang memiliki ilmu agama yang luas. Di sana banyak orang datang untuk belajar kepada beliau, sehingga beliau semakin dikenal masyarakat.Pada usia 68 tahun, beliau menulis kitab yang diberi nama Maulid Simtud Durar. Kemunculan Maulid Simtud Durar di zaman ini diyakini dapat menutupi kekurangan umat di akhir zaman. Sebab, banyak keutamaan yang dahulu diberikan Allah kepada orang-orang terdahulu sulit diraih oleh manusia di zaman akhir. Namun, dengan hadirnya maulid ini, diharapkan dapat menyempurnakan apa yang telah terlewatkan. Selain itu, disebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw. sangat menyukai pembacaan maulid tersebut.Karya baik akan terus hidup dan selalu dibaca oleh orang setelah nya, Walaupun beliau telah wafat, karya dan ajarannya masih diamalkan hingga sekarang. Ini menjadi motivasi untuk meninggalkan amal jariyah.
next post