Buku Filsafat Untuk Pemalas karya Ach. Dhofir Zuhry adalah salah satu buku filsafat yang mencoba membongkar anggapan bahwa filsafat itu selalu identik dengan sesuatu yang berat, ribet, penuh istilah asing, dan hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang kuliah filsafat. Buku ini hadir dengan gaya yang lebih santai, dekat dengan kehidupan sehari-hari, bahkan memakai istilah “pemalas” sebagai cara unik untuk menarik pembaca muda agar mau mengenal dunia filsafat. Buku ini diterbitkan oleh Elex Media Komputindo dan memiliki sekitar 288 halaman.
Dari judulnya saja, buku ini sudah terasa seperti sedang bercanda dengan pembacanya. Biasanya kalau mendengar kata filsafat, yang muncul di kepala adalah nama-nama besar seperti Plato, Aristoteles, Nietzsche, atau Kant. Banyak orang langsung merasa minder sebelum membaca karena menganggap filsafat itu terlalu tinggi. Namun Ach. Dhofir Zuhry justru membalik cara pandang tersebut. Ia seakan berkata bahwa filsafat bukan cuma milik orang yang duduk di perpustakaan sambil membaca buku tebal, tetapi juga milik siapa saja yang mau berpikir tentang hidupnya sendiri.
Hal menarik dari buku ini adalah cara penulis menghubungkan filsafat dengan masalah yang sangat dekat dengan kehidupan manusia modern. Filsafat tidak hanya membahas pertanyaan besar seperti “apa arti hidup?” atau “apa itu kebenaran?”, tetapi juga masuk ke persoalan sehari-hari seperti keresahan anak muda, pencarian jati diri, hubungan sosial, kebahagiaan, bahkan masalah dunia yang sering kita lihat di media sosial.
Kalau dibaca dengan kacamata Gen Z, buku ini seperti teman ngobrol yang mengajak kita mikir lebih dalam. Bukan tipe buku yang menggurui dengan bahasa akademik yang kaku, tetapi lebih seperti seseorang yang sedang mengajak diskusi sambil ngopi. Ada banyak sindiran, humor, dan kritik sosial yang membuat pembaca tidak merasa sedang membaca buku filsafat yang “serius banget”. Namun di balik gaya santainya, sebenarnya ada banyak pertanyaan besar yang dilemparkan kepada pembaca.
Salah satu pesan penting buku ini adalah bahwa manusia sering terlalu sibuk mencari jawaban di luar dirinya, padahal lupa memahami dirinya sendiri. Kita sering mengejar standar hidup orang lain: ingin sukses seperti orang lain, ingin terlihat bahagia seperti orang lain, bahkan ingin menjadi versi manusia yang dibentuk oleh lingkungan. Padahal setiap orang punya perjalanan hidup yang berbeda.
Buku ini mengajak pembaca untuk berani berpikir sendiri. Di zaman sekarang, ketika media sosial penuh dengan opini, tren, dan informasi yang bergerak cepat, kemampuan berpikir kritis menjadi sesuatu yang penting. Kita tidak cukup hanya ikut ramai dalam suatu perdebatan, tetapi perlu bertanya: apakah yang kita percaya benar? Apakah keputusan yang kita ambil memang berasal dari pemikiran kita sendiri?
Namun, buku ini bukan berarti tanpa kekurangan. Bagi pembaca yang sudah terbiasa dengan filsafat akademik, mungkin beberapa bagian terasa terlalu ringan atau terlalu banyak menggunakan gaya bahasa populer. Ada juga beberapa bagian yang membutuhkan konsentrasi lebih karena ide yang disampaikan cukup dalam meskipun dibungkus dengan bahasa sederhana. Jadi, buku ini lebih cocok menjadi pintu masuk untuk mengenal filsafat daripada menjadi buku teori filsafat yang lengkap.
Kekuatan utama buku ini ada pada keberaniannya mendekatkan filsafat kepada masyarakat umum. Ach. Dhofir Zuhry berhasil membuat filsafat terasa tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia menunjukkan bahwa berpikir filosofis bukan berarti harus selalu serius dan kaku. Kadang pertanyaan sederhana tentang hidup justru menjadi awal dari perjalanan filsafat.
Secara keseluruhan, Filsafat Untuk Pemalas adalah buku yang cocok bagi anak muda yang penasaran dengan filsafat tetapi takut merasa “tidak cukup pintar” untuk membacanya. Buku ini mengajarkan bahwa menjadi manusia berarti terus bertanya, berpikir, dan mencari makna. Kemalasan yang dimaksud dalam buku ini bukan sekadar malas bergerak, tetapi sindiran kepada manusia yang malas berpikir.
Buku ini seperti pengingat bahwa di tengah dunia yang serba cepat, manusia tetap perlu berhenti sejenak untuk bertanya kepada dirinya sendiri: “Aku sebenarnya sedang menjalani hidup yang aku pilih, atau hanya mengikuti arus?” Dan mungkin, dari pertanyaan sederhana itulah filsafat benar-benar dimulai.
previous post