Opini

Peradaban Sarung karya Ach Dhofir Zuhry

Kalau selama ini kata “sarung” sering dianggap cuma sebagai pakaian khas santri atau simbol kesederhanaan, buku Peradaban Sarung karya Ach. Dhofir Zuhry mencoba mengubah cara pandang itu. Buku ini bukan cuma membahas kain yang dipakai untuk shalat atau ngaji, tapi membongkar bahwa di balik sarung ada sejarah, nilai, tradisi, ilmu, dan perjuangan panjang sebuah peradaban. Buku ini terasa seperti ajakan untuk melihat pesantren dari sudut pandang yang lebih luas. Pesantren yang kadang dianggap kuno, tertutup, atau jauh dari modernitas justru ditampilkan sebagai tempat lahirnya banyak nilai kehidupan: kesederhanaan, ketekunan, toleransi, dan cinta terhadap bangsa. Ach. Dhofir Zuhry ingin menunjukkan bahwa dunia “kaum sarungan” punya kontribusi besar dalam perjalanan Indonesiaa.Hal yang menarik dari buku ini adalah cara penulis membahas sesuatu yang berat dengan bahasa yang cukup santai. Pembaca tidak hanya diajak berpikir tentang agama, tetapi juga tentang budaya, identitas, dan bagaimana manusia membangun peradaban. Jadi meskipun temanya tentang pesantren, buku ini tetap relevan buat anak muda yang hidup di era digital.Salah satu pesan kuat dalam buku ini adalah bahwa menjadi modern tidak harus berarti meninggalkan tradisi. Banyak orang sekarang berpikir bahwa kemajuan harus selalu mengikuti gaya Barat atau meninggalkan budaya sendiri. Buku ini seperti mengingatkan: kita bisa maju tanpa kehilangan akar. Tradisi bukan musuh perkembangan, justru bisa menjadi fondasi untuk menghadapi zaman.Bagi generasi Z, bagian paling relate dari buku ini adalah pembahasan tentang identitas. Di zaman ketika banyak orang berlomba menunjukkan eksistensi di media sosial, buku ini mengajak kita bertanya: “Sebenarnya kita ini siapa?” Apakah kita hanya mengikuti tren, atau punya nilai yang menjadi pegangan?Sarung dalam buku ini menjadi simbol bahwa sesuatu yang terlihat sederhana bisa memiliki makna yang dalam. Santri dengan sarungnya bukan sekadar orang yang hidup sederhana, tetapi manusia yang ditempa dengan ilmu, adab, dan tanggung jawab sosial. Penulis menggambarkan bahwa pendidikan pesantren tidak hanya mengejar kepintaran otak, tetapi juga membentuk karakter. Yang membuat buku ini menarik adalah kritik halusnya terhadap cara pandang yang sering meremehkan pesantren. Kadang ada anggapan bahwa pesantren itu tidak cocok dengan perkembangan zaman. Namun buku ini menunjukkan bahwa pesantren memiliki cara sendiri dalam menjaga keseimbangan antara ilmu agama, budaya, dan kehidupan sosial.Peradaban Sarung tetap menjadi bacaan yang membuka wawasan. Buku ini cocok untuk siapa saja yang ingin memahami pesantren bukan hanya sebagai tempat belajar agama, tetapi sebagai salah satu pusat pembentukan budaya dan karakter bangsa.Kesimpulannya, Peradaban Sarung adalah buku yang mengajak kita melihat sesuatu yang sederhana dengan perspektif yang lebih dalam. Sarung bukan hanya kain, tetapi simbol perjalanan panjang manusia dalam mencari ilmu, menjaga tradisi, dan membangun peradaban. Buku ini cocok untuk anak muda yang ingin mengenal Indonesia dari sisi yang jarang dibahas: dari pesantren, santri, dan nilai-nilai yang tumbuh di dalamnya.

Related posts

Aku menunggu mu di waktu senja

Niatur Rohmah

HARI SANTRI 2025 DISAMBUT DENGAN COBAAN YANG MENIMPA PONDOK PESANTREN

Imam Ghozali

Ketika Rasa Kemanusiaan Hilang di Balik Tembok Pesantren

Sonia Febrila

Leave a Comment

error: Content is protected !!