Opini

kisah dibalik bumi manusia

Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu sastrawan terbesar yang dimiliki Indonesia. Namun, ada hal yang menarik: namanya justru lebih dikenal dan dihormati di luar negeri dibandingkan di tanah air sendiri.

Mengapa demikian? Hal ini terjadi karena Pramoedya pernah ditetapkan sebagai tahanan politik. Ia didakwa dianggap sebagai simpatisan salah satu partai yang saat itu dilarang oleh pemerintah. Akibatnya, ia diasingkan ke Pulau Buru — sebuah pulau yang sangat terpencil dan jauh di wilayah Provinsi Maluku
Lalu, mengapa Pram akhirnya dimasukkan ke dalam penjara? Semuanya bermula saat ia bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra pada tahun 1959. Ia merasa memiliki kesamaan pandangan: sama‑sama berjuang membela rakyat kecil yang tertindas. Menurut pengakuan Pram sendiri, ia bergabung demi tujuan kemanusiaan, terutama demi keadilan bagi rakyat kecil.

Namun keanggotaan itu justru mendatangkan banyak kesulitan. Sejak saat itu, banyak penerbit yang enggan menerbitkan karya‑karyanya — sehingga penghasilannya pun berkurang. Keluarganya juga sering mendapat perlakuan buruk serta ancaman, sebagian dari kalangan sendiri namun lebih banyak lagi dari pihak luar yang memusuhi Lekra.

Kondisi itu berlanjut hingga akhirnya aktivitasnya menjadikan ia tahanan politik. Pemicunya adalah Peristiwa G‑30‑S pada tahun 1965, ketika PKI dituduh berusaha melakukan kudeta namun gagal. Enam jenderal dan satu perwira tinggi Angkatan Darat menjadi korban. Sejak saat itu, militer bertindak keras terhadap seluruh anggota PKI, bahkan terhadap simpatisan atau siapa pun yang dianggap dekat dengan organisasi tersebut. Ada yang dihukum mati, ada pula yang ditangkap dan dipenjara.

Semua anggota Lekra pun tidak luput dari tindakan pembersihan yang dilakukan militer — dan Pram adalah salah satunya. Sejak tahun 1966, PKI secara resmi ditetapkan sebagai organisasi terlarang. Pram kemudian ditangkap, diinterogasi, dan dipenjara. Perpustakaan pribadinya dirusak dan dibakar, begitu juga dengan naskah‑naskah tulisannya yang ikut musnah terbakar.
Pada tahun 1965 hingga 1969, Pram ditahan di penjara‑penjara di Jakarta dan Tangerang — tanpa diadili, bahkan tanpa diberi kesempatan untuk membela diri. Setelah itu, ia dipindahkan ke Pulau Nusa Kambangan selama sekitar satu bulan, lalu dibawa ke Pulau Buru, Maluku.

Dari tahun 1969 hingga 1979, Pram menjalani masa pembuangan di sana bersama sekitar 14.000 orang tahanan lainnya. Empat tahun pertama masa pembuangan itu adalah masa yang paling berat. Mereka dipaksa bekerja keras membuka hutan belantara menjadi lahan pertanian, sekaligus membangun jalan‑jalan. Kehidupan pada empat tahun awal itu sangat sulit dan penuh penderitaan.
Di tengah beratnya kehidupan itu, banyak sesama tahanan yang tak sanggup menahan tekanan. Ada yang sampai mengakhiri hidupnya sendiri, ada pula yang sengaja berbuat kesalahan sekadar untuk dipindahkan atau mendapat perlakuan lain, dan banyak di antara mereka yang akhirnya mengalami gangguan jiwa atau tekanan batin yang sangat berat.
Pram pun turut menderita di tempat itu. Namun, ia berusaha tetap tegar dan bertahan. Bahkan, ia berupaya menguatkan semangat teman‑temannya yang mulai dilanda keputusasaan. Cara yang dipilih Pram untuk menghibur dan mengokohkan hati mereka adalah dengan bercerita.
Pram menguatkan teman‑temannya lewat kisah‑kisah yang ia sampaikan. Lalu, apa yang diceritakan Pram? Jelas bukan kisah cinta yang dangkal seperti yang sering kita lihat di sinetron masa kini. Bukan pula cerita seram yang tidak masuk akal. Sebaliknya, kisah‑kisah itu berisi pesan tentang keberanian, semangat perjuangan, penentangan terhadap ketidakadilan, serta kekuatan hati untuk tidak pernah menyerah. Itulah hal‑hal yang terus dikisahkan Pram kepada teman‑temannya.
Beberapa tahun kemudian, tepat pada tahun 1973, Jenderal Sumitro menjabat sebagai Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban — Pangkopkamtib. Saat itulah ia baru benar‑benar menyadari bahwa Indonesia sesungguhnya memiliki sastrawan bertaraf dunia. Sayangnya, karena keanggotaannya di Lekra, Pram harus hidup sebagai tahanan politik.

Setelah mengetahui hal itu, Jenderal Sumitro melaporkan keadaan ini kepada Presiden Soeharto. Pemerintah pun menyadari bahwa nama Pram sudah sangat dikenal luas di luar negeri. Mereka mengerti bahwa sikap yang terlalu keras terhadapnya — maupun terhadap para tahanan politik lainnya — akan menimbulkan sorotan buruk dari masyarakat internasional.

Presiden kemudian menugaskan Jenderal Sumitro berkunjung ke Pulau Buru untuk menemui para tahanan, dan khususnya Pram. Ia juga menyertakan surat pribadi berisi nasihat serta penghiburan, meminta Pram agar tetap bersabar menghadapi cobaan tersebut.

Sejak kedatangan itu, perlakuan militer terhadap para tahanan di Pulau Buru mulai melunak; pengawasan pun dilonggarkan. Khusus bagi Pram, ia dibebaskan dari kewajiban kerja berat di ladang maupun hutan, supaya dapat mencurahkan waktunya untuk tugas utamanya: menulis. Jika pun ia masih melakukan pekerjaan fisik, hanya sekadar membelah kayu bakar — hal yang menurut Pram justru menjadi dukungan dan penyemangat baginya
Setelah itu, Jenderal Sumitro pun mengajak Pram berbincang santai di tepi pantai pulau. Dalam percakapan itu, Jenderal Sumitro bertanya, “Apakah ada hal yang bisa saya bantu untuk Bapak?”

Pram menjawab, “Kalau boleh, saya meminta sebuah mesin ketik beserta kertas dan kertas karbon, serta buku catatan. Selain itu, saya juga butuh kamus dan buku‑buku berbahasa Prancis.”

Jenderal Sumitro pun menyanggupi, “Baik, akan saya usahakan.” Setelah itu ia kembali ke Jakarta. Tak lama berselang, ia datang lagi ke Pulau Buru untuk menepati janjinya. Akhirnya Pram menerima kiriman mesin ketik lengkap dengan segala peralatannya. Sejak saat itulah, ia bisa dengan leluasa menulis, mengetik, dan membaca banyak buku yang didambakannya.
Menjelang masa kepulangan para tahanan, Pram sudah merasa gelisah. Ia khawatir apakah naskah‑naskah yang ia tulis bisa selamat atau justru akan dirampas dan dimusnahkan. Karena itu, setiap kali selesai menulis dan mengetik, Pram menggandakannya menjadi lima salinan. Naskah aslinya ia simpan sendiri, sedangkan empat salinan lainnya dibagikan kepada teman‑temannya agar tersebar dan aman.

Ketika saatnya tiba untuk pulang, semua tahanan diperiksa dan digeledah ketat oleh petugas, untuk memastikan tidak ada barang yang dianggap mencurigakan. Salah satu teman Pram bernama Tumisu berhasil melewati pemeriksaan itu dengan cara yang unik.

Begitu diperiksa, Tumisu langsung berpura‑pura pingsan. Petugas pun membawanya ke ruang kesehatan. Setelah diperiksa, dokter menyatakan ia tidak sakit, kemungkinan hanya kelelahan. Saat hendak digeledah kembali, Tumisu pura‑pura pingsan lagi. Akhirnya, petugas mengurungkan niat untuk memeriksa barang bawaannya lebih lanjut. Dengan cara itulah, Tumisu berhasil menyelamatkan dan membawa keluar naskah‑naskah karya Pram dengan selamat.
Jadi mengapa nama Pram selama ini kurang dikenal di Indonesia, padahal di luar negeri namanya begitu masyhur? Jawabannya seperti yang sudah dijelaskan tadi: Pram adalah bekas tahanan politik. Ia didakwa sebagai simpatisan salah satu partai yang dilarang pemerintah, sehingga akhirnya diasingkan ke Pulau Buru — sebuah pulau yang sangat terpencil di wilayah Maluku.

Ada juga pertanyaan lain: Mengapa dalam pelajaran sastra di sekolah, nama Pram nyaris tidak pernah dibahas, padahal ia termasuk sastrawan terbesar yang dimiliki bangsa ini? Jawabannya senada dengan alasan sebelumnya. Pada masa Orde Baru, Pram dianggap sebagai ancaman bagi kekuasaan. Oleh karena itu, namanya sengaja “ditenggelamkan” dan dilarang disebut‑sebut. Pemerintah saat itu tidak mengizinkan nama dan karya‑karyanya diperkenalkan kepada anak didik di sekolah.

Kalau ada guru yang saat itu mengenal Pram dan berani menyampaikannya kepada murid‑muridnya, hal itu bisa berakibat fatal. Guru tersebut bisa langsung ditangkap aparat, diinterogasi, dan dituduh sebagai pendukung PKI. Sungguh berisiko tinggi.

Karena itu, jangan langsung menyalahkan guru‑guru zaman dulu yang seolah menyembunyikan kebesaran nama Pram. Tindakan itu lebih banyak dilakukan demi keselamatan diri dan kelangsungan pekerjaannya, bukan semata‑mata kesalahan mereka. Kondisi zaman saat itu memang sangat berbeda.

Sekarang ini, situasinya sudah jauh lebih terbuka dan bebas. Tidak ada lagi risiko berbahaya jika kita ingin membahas sosok dan karya Pram — meskipun harus diakui, sebagian orang masih merasa takut untuk membicarakannya. Padahal, guru‑guru masa kini tidak perlu lagi menyembunyikan kebesaran nama Pram, karena faktanya ia adalah sastrawan yang namanya telah diakui kehebatannya hingga ke penjuru dunia.

Begitulah ringkasnya kisah di balik sosok Pramoedya Ananta Toer dan kelahiran karya agungnya, Bumi Manusia.

Related posts

Orang-Orang Biasa

nabila

LOMBA GERAK JALAN 17 AGUSTUS DI DESA BRANI WETAN

Novia Putri

Diduga Ada Oknum Manipulasi Informasi, Warga Tegalwatu Bersurat ke Bupati Probolinggo

Vera Safera

Leave a Comment

error: Content is protected !!