FeatureOpini

Kemewahan yang Dibungkus Kesederhanaan

Kemewahan bukanlah soal makanan yang enak, tempat yang indah, atau pakaian berkelimang kemewahan. Bahkan, dengan siapa kita berada hanyalah formalitas belaka.Hakikat kemewahan adalah kesederhanaan—yang berpadu dengan pikiran moderat, kasih sayang yang tulus, hati seluas samudera, dan empati yang menjelma cahaya.Namun sering kali kita terjebak, memandang kemewahan hanya sebatas rupa: visual yang menipu mata. Padahal, keindahan sejati justru kita temukan lewat pengalaman dan pelajaran hidup. Belajar tidak selalu datang dari seorang profesional dengan gelar mentereng. Kita belajar kasih sayang dari seorang ibu, belajar ketulusan dari anak-anak, belajar syukur dari mereka yang hanya makan sekali sehari dan tetap berkata, “Alhamdulillah.”Kesederhanaan yang berpadu dengan pikiran moderat, kasih sayang, hati seluas samudera, dan empati yang tinggi dapat menjadi modal keindahan yang hakiki. Kesederhanaan yang otentik adalah sumber kebijaksanaan, syukur, dan ikhlas. Karena sejatinya, kemewahan adalah kesederhanaan—yang mengajarkan kita arti hidup sebenar-benarnya. Ia bersembunyi dalam kesederhanaan: dalam pikiran yang lapang, dalam kasih sayang yang tak menuntut balasan, dalam hati yang luasnya menandingi samudera. Kerap kita tertipu oleh rupa, mengira kemewahan hanyalah gemerlap yang bisa disentuh mata. Padahal, keindahan sejati tak kasat di kulit, ia tumbuh dari jiwa yang mengenal empati. Di situlah kemewahan berdiam: pada jiwa yang rela berbagi, pada hati yang tak pernah menutup diri. Kemewahan sejati, rupanya, adalah kesederhanaan itu sendiri.

Related posts

Pagi di Klakah: Antara Kabut, Kopi, dan Harapan

M. Nabil Rifki

Jajanan Tradisional yang Tak Pernah Lekang oleh Waktu

Alvin nur Romadhoniah

Bumi Bukan Tempat Sampah, Tapi Kita Bertingkah Seolah Iya

Alek Permadani

Leave a Comment