Opini

IBNU SINA

1. Lahir dan masa kecil

Ibnu Sina lahir tahun 980 M di desa Afshana dekat Bukhara. Ayahnya orang berpendidikan dan memperhatikan pendidikannya. Sejak kecil kecerdasannya sangat menonjol. Usia 10 tahun sudah hafal seluruh Al-Qur’an dan paham ilmu agama dasar. Ia belajar logika, matematika, sastra dan filsafat jauh lebih cepat dari teman sebayanya bahkan kadang lebih paham dari gurunya. Usia sekitar 16 tahun mulai mendalami kedokteran dan sudah bisa mengobati orang. Saat berhasil menyembuhkan sakit Raja Bukhara, ia diizinkan masuk ke perpustakaan kerajaan yang paling lengkap saat itu dan di sanalah ia menguasai hampir seluruh ilmu yang ada pada zamannya.

2. Kehidupan yang selalu berpindah‑pindah

Kondisi politik saat itu tidak aman dan sering berubah penguasa. Ibnu Sina tidak bisa menetap lama di satu tempat. Ia berpindah dari Bukhara ke Jurjan, Rayy, Hamadan hingga Isfahan. Kadang menjadi dokter atau penasihat raja, kadang harus melarikan diri, bersembunyi bahkan sempat dipenjara. Di mana pun berada—baik saat sibuk di istana maupun dalam kesulitan—ia tetap belajar, mengajar dan menulis tanpa berhenti. Sebagian karya besarnya justru disusun saat dalam perjalanan atau masa sulit.

Kutipan yang ada di sampul buku: Aku paling takut pada sapi, sebab ia punya tanduk, namun tak punya akal. Maksudnya: kekuatan fisik saja tanpa akal dan kebijaksanaan justru berbahaya, karena akal adalah keunggulan utama manusia.

3. Karya‑karya besar dan pemikiran utama

Ia menulis lebih dari 200 buku meliputi filsafat, logika, kedokteran, matematika, fisika dan teologi. Ada dua karya yang paling penting:

  1. Kitab Al‑Syifa’ – ini adalah ensiklopedia besar filsafat dan ilmu pengetahuan. Di dalamnya menyusun pemikiran Aristoteles, aliran Neoplatonisme dan pemikir terdahulu seperti Al‑Farabi lalu menyesuaikan dan menyelaraskannya dengan ajaran agama. Membahas tentang hakikat wujud, Allah sebagai Wajibul Wujud, alam semesta, jiwa manusia, akal serta hubungan antara akal dan wahyu. Buku ini menjadi bahan ajar utama di dunia Islam dan universitas Eropa hingga abad ke‑17, menjadi jembatan pemikiran antara filsafat Yunani kuno, filsafat Islam dan filsafat Eropa abad pertengahan.
  2. Kitab Al‑Qanun fi at‑Thibb – buku pokok kedokteran yang menyusun seluruh pengetahuan medis secara sistematis. Membahas anatomi, jenis penyakit, cara mendiagnosis, bahan obat dan cara menjaga kesehatan tubuh. Tetap dipelajari di universitas Eropa sampai abad ke‑17.
    Selain itu ada tulisan lain seperti Risalah tentang Jiwa yang menjelaskan jiwa bukan benda materi, berbeda dengan tubuh dan tetap ada meski tubuh rusak.

4. Pokok‑pokok pemikiran Ibnu Sina

  1. Pembagian wujud: dibagi menjadi dua jenis. Pertama Wajibul Wujud, yaitu yang keberadaannya tidak bergantung pada hal lain, hanya berlaku bagi Allah. Kedua Mumkinul Wujud, yaitu yang keberadaannya mungkin ada atau tidak ada, meliputi seluruh makhluk dan alam semesta.
  2. Hubungan akal dan wahyu: tidak saling bertentangan. Akal adalah alat untuk mencari dan memahami kebenaran, wahyu adalah jalan yang pasti dan sempurna. Pemikiran yang benar menurut akal akan selaras dengan ajaran agama.
  3. Tentang jiwa dan akal: jiwa adalah zat yang berbeda dari tubuh, tidak hancur bersama tubuh. Tingkat tertinggi kemampuan jiwa adalah akal, yang bisa menghubungkan manusia dengan prinsip‑prinsip kebenaran semesta.
  4. Tujuan hidup: mengembangkan kemampuan akal dan kebijaksanaan agar makin mendekat kepada Yang Sempurna, bukan sekadar mengejar kekuatan fisik atau kekayaan materi semata.

5. Akhir hayat dan warisan pemikiran

Ibnu Sina meninggal dunia tahun 1037 M di Hamadan saat berusia sekitar 57 tahun. Hingga hari terakhir ia tetap mengajar, berdiskusi dan menyelesaikan tulisan‑tulisannya. Warisannya sangat besar: menjadi tokoh puncak filsafat Islam abad pertengahan, karya‑karyanya menjadi rujukan utama di Timur dan Barat, dan pemikirannya sangat berpengaruh bagi filsuf besar Eropa seperti Thomas Aquinas. Ia menjadi contoh nyata bahwa ilmu, akal dan kebijaksanaan adalah kekuatan yang paling berharga dan abadi.

Related posts

Kebakaran Gedung Terra Drone di Jakarta Pusat: 22 Orang Meninggal, Baterai Drone Diduga Jadi Penyebab

Alvin nur Romadhoniah

Cinta yang terlambat

Novia Putri

Ketika Sawah Hijau Tak Lagi Indah Karena Sampah

Sofita fita

Leave a Comment

error: Content is protected !!