Rhe adalah sosok yang gampang disukai banyak orang, bukan karena wajahnya yang luar biasa tampan, tapi karena caranya membawa diri — hangat, selalu tersenyum, dan bikin orang di sekitarnya nyaman. Justru sifat itu jadi bumerang: dia sering dicap playboy karena kedekatannya dengan banyak perempuan, padahal itu bagian dari kepribadiannya yang memang terbuka ke siapa saja.
Uttara hadir sebagai kebalikannya — dingin, tertutup, dan skeptis, terutama pada sosok seperti Rhe yang dianggapnya terlalu mengumbar kehangatan. Pertemuan mereka terjadi tanpa diduga, dan dari situ Rhe meminta Uttara melakukan satu hal: menuliskan kisah hidupnya. Permintaan yang awalnya kelihatan sepele itu ternyata punya alasan yang jauh lebih berat — Rhe menyimpan kenyataan bahwa usianya tidak lama lagi, dan ia ingin kisah hidupnya selesai ditulis sebelum waktunya habis, sebagai jejak dan pesan yang ingin ia tinggalkan.
Alur dibangun dengan teknik maju-mundur. Bagian maju menunjukkan keseharian Rhe sebagai mahasiswa, kakak bagi Anggi, dan sosok yang dikelilingi banyak teman serta perempuan — termasuk Mia, pacarnya. Bagian mundur membawa pembaca ke masa kecil Rhe, salah satunya kenangan memperhatikan ibunya melukis, yang sekaligus jadi fondasi pesan moral novel ini: bahwa perbedaan justru bisa saling melengkapi, seperti yang ia lihat dari hubungan kedua orang tuanya.
Konflik memuncak saat Rhe terjebak di antara kedekatannya dengan beberapa perempuan — disalahpahami Adisty, sahabatnya sendiri, sebagai bukti ia menyakiti banyak hati, sampai terjadi pertengkaran yang berujung pada sebuah insiden. Di titik inilah reputasinya sebagai “playboy” diuji habis-habisan, berhadapan dengan kenyataan yang jauh lebih kompleks dari sekadar label itu.
Sembari menulis dan menggali masa lalu Rhe, perlahan benteng pertahanan Uttara runtuh. Ia mulai melihat ketulusan di balik topeng ceria Rhe, dan hubungan yang tadinya murni profesional ini berkembang jadi cinta yang mendalam — namun harus berkejaran dengan waktu yang semakin sempit.
Novel ini berakhir dengan kepergian Rhe, sesuai dengan makna yang tersirat dari judulnya: ia benar-benar “mengetuk pintu surga” setelah menuntaskan kebaikan yang bisa ia tebarkan selama hidup. Uttara, meski terpukul, berhasil menyelesaikan amanah terakhir itu — buku kisah hidup Rhe rampung ditulis, jadi bukti cinta terakhir sekaligus proses penyembuhan baginya sendiri. Dari sosok yang dingin dan tertutup, Uttara tumbuh menjadi pribadi yang lebih ikhlas dan penuh kasih.
Secara keseluruhan, *Pijaki Langit, Mengetuk Pintu Surga* bukan sekadar kisah cinta, melainkan perjalanan tentang pengorbanan, keikhlasan, dan bagaimana setiap pertemuan serta ujian hidup pada akhirnya mengarahkan manusia untuk semakin dekat kepada Tuhan.