Novel Pergi ini adalah kelanjutan dari cerita sebelumnya yang berjudul Pulang. Di dalamnya, kita masih mengikuti perjalanan hidup tokoh utamanya, yaitu Bujang atau yang sering disebut juga sebagai Si Mata Malaikat.
Di awal cerita, Bujang sudah mencapai apa yang selama ini ia perjuangkan. Ia memiliki kekuatan yang luar biasa, harta yang melimpah, kedudukan yang dihormati banyak orang, serta kekuasaan yang luas. Semua orang mengira hidupnya sudah sempurna dan tidak ada lagi yang kurang. Namun, justru saat memiliki segalanya itu, Bujang merasakan ada bagian dalam hatinya yang terasa hampa dan kosong. Ia mulai bertanya-tanya dalam hati: kalau sudah punya semua ini, untuk apa sebenarnya aku terus hidup? Apa tujuan sesungguhnya dari semua perjuangan yang sudah aku lalui selama ini?
Karena pertanyaan itu terus menghantui pikirannya, akhirnya Bujang membuat keputusan besar. Ia memutuskan untuk pergi. Ia meninggalkan segala sesuatu yang sudah dimilikinya: rumah tempat tinggalnya yang megah, kekuasaan yang ia pegang, pengikut-pengikutnya, bahkan nama dan gelar yang membuatnya dikenal dan ditakuti banyak orang. Ia pergi dengan bekal seadanya, berjalan sendirian tanpa rencana yang pasti, hanya ingin menjelajahi banyak tempat dan mencari jawaban atas rasa penasarannya itu.
Selama perjalanannya yang jauh itu, Bujang bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang kehidupan. Ada orang yang hidupnya serba kekurangan tapi tetap terlihat tenang dan bersyukur atas apa yang dimiliki. Ada juga orang yang kaya raya dan punya segalanya, tapi hatinya selalu gelisah dan tidak pernah merasa cukup. Ia juga bertemu petani yang bekerja keras setiap hari dari pagi sampai sore, pedagang yang berjuang menghidupi keluarga, serta orang-orang yang memiliki kisah suka maupun duka dalam hidupnya. Dari setiap pertemuan dan percakapan itu, Bujang belajar banyak hal baru yang tidak pernah ia dapatkan saat masih duduk di atas kekuasaannya.
Perlahan-lahan, ia mulai mengerti makna sebenarnya dari kata “pergi”. Pergi bukan berarti lari dari masalah, bukan pula melupakan asal-usul dan jati diri sendiri. Pergi adalah cara untuk membuka mata dan hati, melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda, melepaskan rasa sombong dan sifat yang tidak baik, serta memilah mana hal yang benar-benar penting dan mana yang hanya menjadi beban hidup. Ia pun sadar bahwa kebahagiaan sejati dan makna hidup tidak bisa dibeli dengan harta, tidak didapatkan dari pangkat, dan tidak bergantung pada kekuasaan. Semua itu justru tumbuh dari cara kita memperlakukan orang lain, apa yang bisa kita berikan untuk sesama, dan bagaimana kita menjalani setiap hari dengan hati yang tulus dan ikhlas.
Di akhir perjalanannya, Bujang tidak lagi merasa ada kekosongan di dalam hatinya. Ia sudah menemukan jawaban yang ia cari selama ini. Ia mengerti bahwa hidup ini bukan hanya soal apa yang berhasil kita capai atau kumpulkan, tapi lebih kepada ke mana kita melangkah dan apa nilai baik yang bisa kita bawa serta sebarkan selama kita masih hidup.