Tentang Penulis & Latar Belakang BukuToshikazu Kawaguchi lahir di Osaka, Jepang, pada tahun 1971. Sebelum menjadi novelis terkenal, dia adalah seorang produser, sutradara, dan penulis naskah untuk kelompok teater Sonic Snail. Menariknya, Funiculi Funicula awalnya ditulis sebagai naskah teater panggung. Naskah tersebut memenangkan penghargaan utama di festival teater sebelum akhirnya Kawaguchi mengadaptasinya menjadi novel pada tahun 2015. Itulah mengapa latar tempat novel ini sangat minimalis (hanya di dalam satu kafe) karena pengaruh kuat dari struktur panggung teater.Eksplorasi Alur & Karakter yang Lebih RinciNovel ini berlatar di sebuah kafe tua bernama Funiculi Funicula di Tokyo, yang dikelola oleh Nagare Tokita dan sepupunya, Kazu, yang bertugas menuangkan kopi ajaib. Fokus cerita dijabarkan lewat empat babak yang sangat emosional:Fumiko dan Kekasihnya: Fumiko menyesal karena bersikap gengsi dan terlalu rasional saat kekasihnya berpamitan untuk bekerja di Amerika. Dia kembali ke masa lalu hanya untuk jujur tentang perasaannya, meskipun dia tahu hal itu tidak akan menghentikan kepergian pria tersebut.Kotake dan Suaminya: Kotake adalah seorang perawat yang suaminya menderita Alzheimer parah hingga tidak mengenali wajah Kotake lagi. Kotake kembali ke masa lalu sebelum suaminya sakit total demi menerima sebuah surat yang belum sempat suaminya berikan padanya.Hirai dan Adiknya: Hirai adalah wanita bebas yang kabur dari tanggung jawab mengurus penginapan keluarga, meninggalkan adiknya yang penyayang bekerja sendirian. Setelah adiknya tewas dalam kecelakaan mobil saat hendak menjenguknya, Hirai kembali ke masa lalu untuk menemui adiknya sekali lagi.Kei dan Anaknya: Kei adalah istri Nagare yang memiliki penyakit jantung lemah. Saat hamil, dia tahu bahwa melahirkan anak ini kemungkinan besar akan merenggut nyawanya. Kei memilih pergi ke masa depan untuk melihat apakah anaknya tumbuh dengan bahagia.Meskipun aturan kafenya mengatakan “masa depan tidak akan berubah”, para tokoh di buku ini menyadari bahwa yang berubah adalah jiwa mereka. Mereka kembali ke masa kini dengan kelapangan dada dan keikhlasan untuk melanjutkan hidup.
previous post