Nonfiksi

Dari Kelopak hingga Jeritan: Kisah Uji Nyali dan Tawa Manis di Santera De Laponte Malang

Udara Malang adalah puisi yang selalu dibisikkan oleh sejuk. Pagi itu, saya dan sahabat karib saya, Angel, tiba di Santera De Laponte. Kami mencari pelarian dari penatnya rutinitas, dan Santera adalah janji yang memikat. Tempat wisata ini, memang bisa dibilang cukup lengkap, dengan suhu yang sejuk, penuh wahana seru, dan tentu saja, hamparan bunga yang begitu indah nan cantik.

Santera menyambut kami dengan senyum dinginnya yang khas. Hamparan bunga membentang bak permadani sutra di kaki bukit, di mana setiap jenis flora memamerkan kecantikannya: mawar yang malu-malu merona, lili yang berdiri tegak penuh martabat, dan hortensia yang berkumpul merapatkan barisan seolah sedang bergosip. Arsitektur bergaya Eropa, dan tidak lupa dengan kafe yang cukup menarik perhatian orang-orang, semakin melengkapi keindahan ini.

Kami mengambil foto berdua, mengabadikan momen di tengah jutaan kelopak. Setelah puas dengan keindahan visual, kami memutuskan untuk memulai petualangan kami. Saya memilih jalan dan bermain wahana bersama Angel. Tatapan mata kami adalah kesepakatan sunyi, ini adalah hari kebersamaan kami.

Melarikan Diri dari Kengerian yang Hidup

Langkah kaki kami berayun di antara wahana, tawa kami meluncur bebas bersama angin bukit. Kita merasakan indahnya pemandangan di Santera, bercanda, menikmati serunya permainan.

Di antara banyaknya wahana, sebuah papan lusuh dan gelap berhasil menarik perhatian kami bagai magnet: Rumah Hantu.

“Hanya patung biasa, paling suara musik horor saja,” ujar Angel, menyalurkan keberanian yang rapuh. Kami memasuki ambang pintu yang dingin, awalnya masih merasa berani.

Tapi, di lorong berikutnya, semua asumsi kami hancur berkeping-keping. Tiba-tiba, dari kegelapan yang pekat, sesosok bayangan melompat. Ia bukan patung, tapi hantu yang hidup, bergerak, berteriak—suara serak yang merobek ketenangan kami.

Angel refleks berteriak, suaranya melengking seperti alarm yang pecah. Tubuh saya menegang. Ketakutan itu merayap dingin dari punggung hingga ke ubun-ubun. Kami langsung berlari, beruntung ada rombongan lain di belakang kami. Banyak kejutan yang datang, berhasil membuat kami kaget dan takut.

Ketika pintu keluar akhirnya terbuka, kami terlempar ke bawah langit yang terang. Kami ngos-ngosan gara-gara teriak terus di dalam, tapi juga merasa lega saat sudah di luar rumah hantu itu. Rasanya menakutkan sekaligus menantang, sebuah kisah yang membuat kami tertawa getir.

Manisnya Kelegaan di Sudut Cinta

Setelah kelelahan menjajal wahana, saya dan Angel memilih untuk beli makanan dan minuman. Kami kemudian duduk di tempat duduk berbentuk hati (love) yang unik dan lucu untuk beristirahat. Kami menyantap hidangan, dan setiap kali mengingat jeritan kami, kami langsung tertawa terbahak-bahak. Selesai makan dan minum, kami menyempatkan diri membuat video dan foto-foto.

Setelah semuanya selesai dengan aktivitasnya masing-masing, kami kembali ke bus untuk melanjutkan ke tempat oleh-oleh. Selesai membeli oleh-oleh, kami semua memutuskan untuk pulang.

Meninggalkan Santera, saya menoleh ke belakang. Kenangan akan keriangan bunga, serunya tawa yang menghangatkan persahabatan, dan deru napas ketakutan yang kami bagi di lorong gelap, akan terukir selamanya di dinginnya Malang.

Related posts

Budi Utomo: Nyala Pertama Kebangkitan Nasional

Vera Safera

Dengan adanya era digital anak muda sudah mulai melupakan mainan tradisional

Moh Juaeni Hisbullah

Nanti Juga Sembuh Sendiri karya Helobagas

halo.narasimu

Leave a Comment

error: Content is protected !!