Akar Kehidupan
Yuliatus Soliha lahir pada 30 Juli 1993 di Racek, Tiris, Probolinggo. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak pondok oleh tetangga di sekitar rumahnya. Di usia yang masih sangat muda, sembilan tahun, ia sudah memutuskan untuk mondok — sebuah langkah besar bagi seorang anak kecil yang rindu belajar sekaligus berjuang jauh dari keluarga.
Kehidupan pesantren menempanya menjadi pribadi yang disiplin, sabar, dan mandiri. Ia belajar bahwa hidup bukan tentang kenyamanan, tetapi tentang seberapa kuat kita bertahan untuk mencapai cita-cita. Dari pondok inilah akar nilai-nilai kehidupannya tumbuh — nilai keikhlasan, kesederhanaan, dan keteguhan hati.
Langkah Pendidikan
Perjalanan pendidikannya dimulai di SDN Racek 1, tempat ia pertama kali menanamkan mimpi untuk menjadi seorang pendidik. Setelah lulus, ia melanjutkan ke MTS Zainul Hasan, lalu ke MA Model Zainul Hasan. Di lingkungan pendidikan berbasis pesantren itu, Yuliatus menemukan keseimbangan antara ilmu dunia dan ilmu akhirat.
Setiap jenjang pendidikan yang ia lalui bukan hanya sekadar formalitas, melainkan perjalanan untuk membentuk jati diri. Ia menyadari bahwa ilmu harus diiringi dengan adab, dan kecerdasan sejati lahir dari hati yang bersih.
Di sela-sela perjalanannya menuntut ilmu, ia selalu berpegang pada pesan yang menjadi prinsip hidupnya:
“Utamakan adab sebelum ilmu.”
Bagi Yuliatus, ilmu tanpa adab hanyalah pengetahuan kosong, sedangkan adab tanpa ilmu tetap memancarkan cahaya kebaikan. Prinsip inilah yang ia tanamkan kepada setiap muridnya — bahwa kecerdasan sejati lahir dari hati yang beradab.
Menyelami Ilmu
Langkah berikutnya membawa Yuliatus ke Universitas Zainul Hasan (UNZAH), di mana ia menempuh jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Ia memilih jurusan ini karena meyakini bahwa bahasa Arab adalah bahasa ilmu dan agama — bahasa yang membuka pintu pemahaman terhadap Al-Qur’an dan nilai-nilai Islam.
Di masa kuliahnya, Yuliatus tak hanya belajar teori pendidikan, tapi juga belajar tentang makna tanggung jawab sebagai calon guru. Ia ingin menjadi pendidik yang tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing dengan hati.
Mengabdi dengan Cinta
Tahun 2021 menjadi titik penting dalam hidupnya. Ia mulai mengabdi sebagai guru di SD Zainul Hasan Genggong. Sejak saat itu, setiap pagi pukul 06.00, Yuliatus berangkat dari rumahnya di Racek menuju sekolah.
Perjalanan itu tidak singkat — ia diantar oleh suami hingga ke Condong, lalu melanjutkan dengan angkutan umum menuju Genggong. Meski jarak dan waktu tempuh cukup jauh, ia menjalaninya dengan penuh syukur dan semangat.
Selama empat tahun mengabdi, Yuliatus membuktikan bahwa menjadi guru bukan tentang mencari kemudahan, melainkan tentang memberi makna. Ia hadir di sekolah dengan hati penuh kasih, menjadi sosok ibu kedua bagi murid-muridnya. Dalam setiap pelajaran, ia tidak hanya mengajarkan huruf dan angka, tetapi juga nilai-nilai kehidupan — tentang sabar, jujur, dan semangat pantang menyerah.
Buah Pengapdian
Dari panjangnya, cermin Yuliatus Soliha menjadian bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari gelar atau kemewahan, tetapi dari ketulusan dalam mengabdi. Ia membuktikan bahwa perempuan bisa kuat tanpa kehilangan kelembutannya, bisa berjuang tanpa kehilangan kasihnya.
Baginya, dunia pendidikan adalah ladang pahala — tempat ia menanamkan cinta, harapan, dan doa dalam setiap langkah.
Penutup
Akar kehidupan Yuliatus Soliha tertanam dalam nilai pesantren dan pendidikan. Dari anak pondok kecil di Tiris, kini ia tumbuh menjadi guru yang menyalakan cahaya bagi generasi penerus.
Ia mengajarkan satu hal penting kepada kita semua: bahwa ketika kita menanam dengan keikhlasan, maka hasilnya akan berbuah keberkahan.