Opini

Tumbuh dengan Orang Tua yang Keras: Antara Luka, Pelajaran, dan Rasa Sayang yang Tak Terucap

Di balik kehidupan remaja yang tampak bebas di media sosial, tak sedikit yang sebenarnya tumbuh dalam keluarga dengan aturan ketat. Begitu juga aku — dibesarkan oleh orang tua yang disiplin dan tegas dalam hampir setiap hal. Dari jam keluar rumah hingga pilihan teman, semua diatur. Kadang aku merasa tidak punya ruang untuk menentukan langkah sendiri.

Banyak orang mungkin berpikir hidup dengan strict parents itu menyulitkan, dan memang benar, terkadang terasa menyesakkan. Namun seiring waktu, aku mulai memahami bahwa ketegasan mereka bukan semata-mata ingin mengekang. Orang tua tumbuh di masa yang penuh tantangan dan kekhawatiran. Mereka percaya bahwa cara terbaik melindungi anak adalah dengan kontrol dan aturan yang ketat.

Meski demikian, pola asuh seperti ini juga punya sisi lain. Tidak jarang, anak jadi takut berbicara jujur karena khawatir dimarahi atau tidak dipercaya. Padahal, komunikasi dua arah justru hal yang paling dibutuhkan agar tidak ada jarak antara orang tua dan anak. Di sinilah tantangan generasi kami: berani memahami tanpa harus melawan.

Aku belajar bahwa di balik suara keras dan larangan yang sering membuatku kesal, tersimpan rasa sayang yang besar — hanya saja cara mereka mengekspresikannya berbeda. Cinta versi orang tua kadang hadir dalam bentuk peringatan, batasan, dan kekhawatiran yang tak terucap.

Menjalani hidup dengan strict parents memang tidak mudah, tapi bukan juga kutukan. Aku percaya, setiap aturan yang mereka buat berangkat dari niat baik. Kini tugasku bukan untuk membenci, melainkan belajar memahami, agar suatu hari nanti aku bisa mencintai dengan cara yang lebih lembut — tapi tetap tegas seperti mereka.

Related posts

Jejak Cahaya dari Seorang Guru yang Tak Pernah Lelah Menrangi”

Novia Putri

Ketika Rasa Kemanusiaan Hilang di Balik Tembok Pesantren

Sonia Febrila

K-Popers Indonesia Menggerakkan Industri Kreatif

Dini Dwi Safitri

Leave a Comment