Opini

Siapa yang Mengendalikan Siapa: Manusia atau Algoritma Tiktok?

Setiap hari, jutaan jempol di seluruh dunia menelusuri layar TikTok tanpa henti. Video berdurasi singkat dengan musik yang mudah dihafal dan visual yang cepat bergulir satu per satu, membuat waktu terasa menipis tanpa disadari. Bagi sebagian orang, TikTok menjadi ruang berekspresi dan belajar hal baru. Tapi bagi sebagian lain, aplikasi ini menjelma candu yang perlahan mencuri fokus dan waktu istirahat.

TikTok bukan sekadar platform hiburan. Ia adalah mesin algoritma yang mempelajari perilaku penggunanya hingga ke detail terkecil. Berapa lama seseorang menonton video, apa yang disukai, bahkan ekspresi wajah yang tertangkap kamera. Dari data itu, sistem akan terus menyajikan konten yang membuat pengguna betah berlama-lama. Hasilnya? Banyak remaja kesulitan lepas dari layar, bahkan rela begadang hanya untuk “scroll sedikit lagi”.

Namun, di sisi lain, TikTok juga membuka peluang besar. Banyak anak muda menemukan bakatnya di sana: mulai dari membuat konten edukatif, seni, hingga bisnis kecil. Platform ini membuktikan bahwa kreativitas bisa tumbuh di ruang digital yang terbuka untuk semua. Masalahnya, batas antara “berkarya” dan “terjebak di layar” sering kali begitu tipis.

TikTok seharusnya menjadi alat, bukan penguasa waktu. Dalam dunia yang dikendalikan algoritma, kesadaran digital menjadi kunci. Menggunakan TikTok dengan bijak berarti menikmati hiburan tanpa kehilangan kendali atas diri sendiri. Karena pada akhirnya, yang menentukan siapa yang mengendalikan siapa (manusia atau algoritma) adalah kita sendiri.

Related posts

Dakwah Melalui Game Roblox: inovasi Husein Basyaiban di Era Digital

Zida Sabrina

Ketika Sawah Hijau Tak Lagi Indah Karena Sampah

Sofita fita

Di Antara Hedonia dan Eudaimonia, Anak Muda Terjebak Ilusi Kebahagiaan

halo.narasimu

Leave a Comment