Opini

Teman adalah Keluarga

Tidak semua keluarga terikat oleh darah. Ada kalanya, orang-orang yang paling mengerti kita justru bukan yang serumah, melainkan mereka yang kita sebut teman. Di tengah kesibukan dan tekanan hidup, teman sering menjadi tempat berlabuh, tempat di mana kita bisa tertawa tanpa topeng dan menangis tanpa malu.

Saya teringat masa-masa sekolah, ketika semuanya terasa sulit. Tugas menumpuk, guru galak, dan rasa lelah yang tak berujung. Namun setiap kali bertemu teman-teman di kelas, semua beban itu seolah berkurang. Mereka bukan hanya membantu mengerjakan tugas, tapi juga memberi semangat. Dari situlah saya sadar, persahabatan bukan hanya tentang kebersamaan, tapi juga tentang saling menjaga dan memahami.

Ada teman yang datang dan pergi, namun beberapa tetap tinggal. Mereka tahu bagaimana cara membuat suasana tenang saat kita marah, atau sekadar mendengarkan ketika dunia terasa terlalu berat. Dalam momen seperti itu, saya merasa bahwa hubungan pertemanan bisa sekuat, bahkan melebihi hubungan keluarga.

Teman adalah keluarga yang kita pilih sendiri. Mereka mungkin tidak memiliki ikatan darah, tetapi memiliki ikatan hati dan pengalaman. Dalam suka maupun duka, mereka menjadi saksi perjalanan hidup kita, tumbuh bersama dan saling menguatkan.

Kini, setiap kali saya bersama mereka, saya tidak hanya merasa memiliki teman, tapi juga keluarga yang lain, keluarga yang hadir bukan karena takdir, melainkan karena pilihan dan keikhlasan.

Related posts

Pajarakan, Antara Pertumbuhan Pesat dan Tantangan Pemerataan.

Rafli Rhomadhoni

Pentingnya pengembangkan Literasi Digital dan Modern

Novia Putri

“Ketika Panggung yang Hilang Melahirkan Inspirasiā€

Zida Kamalia

Leave a Comment