Di balik senyum yang sering kubawa ke mana pun aku pergi, ada suara sunyi yang tak banyak orang tahu. Suara itu bukan deru keramaian atau tawa riang, tapi bisikan pelan dari luka dan perjalanan hati yang tersembunyi. Setiap hari, aku belajar menyembunyikan rasa takut dan kegelisahan di balik senyum yang terlihat bahagia itu.
Sejak kecil, aku terbiasa menghadapi dunia dengan kepala tegak, walau sebenarnya banyak pertanyaan yang menggantung dan rasa sepi yang menghampiri. Di antara keramaian, aku sering merasa sendirian, seolah suara hatiku menjadi gema yang hanya bisa kudengar sendiri. Suara sunyi itu kadang membuatku lelah, tapi juga mengajarkan aku arti keteguhan dan harapan.
Aku percaya, senyuman bukan hanya tanda kebahagiaan, tapi juga pelindung yang kuat untuk menjaga luka agar tak tampak terlalu dalam. Dengan suara sunyi itu, aku menenun mimpi dan semangat untuk melangkah maju, menulis kisah hidup yang tak hanya tentang kesedihan, tapi juga tentang keberanian dan cinta kepada diri sendiri.
Suara sunyi di balik senyumku adalah kekuatan yang tak terlihat. Ia membimbingku menjadi pribadi yang utuh, yang belajar menerima segala kelebihan dan kekurangan, dan yang siap menghadapi dunia dengan hati yang lebih tabah dan penuh kasih.