Insight

Setiap langkahku berdiri di atas doa mereka, setiap tujuanku hidup dari restu yang tak pernah padam

Sejak kecil, aku tumbuh dikelilingi kasih sayang yang nggak pernah berhenti mengalir dari dua sosok luar biasa Ayah dan Ibu. Mereka adalah dua cahaya yang selalu menyala bahkan di saat dunia terasa gelap. Dari mereka, aku mengenal arti perjuangan, pengorbanan, dan cinta yang tidak kenal lelah.

Ibu adalah pelukan paling hangat yang selalu siap menenangkan di saat aku rapuh.

Ia tak hanya melahirkan, tapi juga menumbuhkan dengan kasih yang tak terukur. Dalam diamnya, tersimpan ribuan doa yang naik ke langit setiap malam. Dalam senyumnya, tersimpan kekuatan yang membuatku mampu bertahan meski dunia terasa berat. Dari Ibu, aku belajar arti kelembutan, ketulusan, dan cinta tanpa pamrih.

Ayah adalah bahu terkuat tempat aku bersandar tanpa takut jatuh.

Ia mungkin tak banyak bicara, tapi setiap tindakannya adalah bentuk cinta yang nyata. Dari kerja kerasnya aku belajar arti tanggung jawab, dari ketegarannya aku belajar bagaimana menjadi kuat tanpa harus banyak kata. Ayah mengajarkanku bahwa kasih sayang bukan selalu ditunjukkan dengan ucapan, tapi dengan perjuangan tanpa henti demi kebahagiaan anaknya.

Dari mereka aku belajar, bahwa hidup bukan tentang seberapa cepat mencapai mimpi, tapi tentang bagaimana tetap rendah hati dalam setiap langkah. Dari mereka aku terinspirasi untuk terus berjuang, meski kadang dunia terasa tak berpihak.

Kini, setiap langkah yang kuambil selalu kutitipkan pada doa mereka. Setiap keberhasilan yang kucapai adalah hasil dari restu yang mereka bisikkan dalam sujud. Aku menulis kisah ini bukan sekadar ucapan terima kasih, tapi juga bentuk penghargaan untuk dua nama yang selalu kusebut dalam setiap doa Ayah dan Ibu.

Dua Jiwa, Satu Doa

Ayah dan ibu adalah dua jiwa yang berbeda tapi saling melengkapi. Ibu dengan kelembutannya, ayah dengan keteguhannya. Dari keduanya, aku mengerti bahwa kehidupan butuh keseimbangan kasih dan ketegasan, sabar dan tanggung jawab, doa dan usaha.

Mereka tidak sempurna, tapi justru dari ketidaksempurnaan itu aku belajar banyak hal bahwa cinta sejati bukan tentang kesempurnaan, tapi tentang bertahan bersama dalam segala keadaan.Kini, setiap kali aku merasa lelah, aku hanya perlu mengingat mereka dua sosok yang tak pernah berhenti berdoa untukku bahkan saat aku lupa berdoa untuk diri sendiri.

Aku tumbuh dari doa mereka.Segala lelah dan cinta mereka jadi alasan aku terus melangkah.

Related posts

Yakin Hidup Sehat Itu Mahal? Ini Cara Memulainya Tanpa Menguras Dompet

Intan Faiqotul laili

Sosok yang paling penting dari hidupku

Ike Mawar Yuni Arifin

Ketika Dunia Riuh, Ibu Tetap Menjadi Rumah

Dhita Amalia Sabhila

Leave a Comment