Fiksi

Setelah Semua Reda

Namaku Nayla. Aku tidak pernah menyangka, bahwa seseorang dengan wajah setenang itu datang hanya untuk pergi dengan alasan yang samar dan meninggalkan luka yang begitu nyata. Aku mengenalnya, Darren, di acara kampus dua tahun lalu. Dia yang duluan menyapa, duluan mencari-cari alasan untuk dekat.Awalnya aku biasa saja, tapi dia terlalu konsisten untuk diabaikan.Pesannya datang setiap pagi.“Udah sarapan, Nay?”“Jangan lupa istirahat, kamu tuh suka maksa diri.”Pelan-pelan, aku luluh.Dia tahu cara membuatku nyaman tanpa banyak kata.Sampai akhirnya, aku jatuh. Bukan karena rayuannya, tapi karena perhatiannya terasa tulus, menurutku begitu. Hari-hari bersamanya terasa sederhana namun hangat.Kami sering duduk di taman kampus sore-sore, misalnya hal membicarakan hal remeh yang selalu berbentuk tawa. Darren sering berkata, “Kalau aku pergi nanti, itu hanya buat berjuang dulu. Tapi aku bakal balik, ke kamu.”Dan bodohnya, aku percaya. Sampai hari itu tiba, suaranya terdengar berat. “Tidak… aku rasa kita harus berhenti dulu.” Dia bilang hanya butuh waktu untuk menata diri, buat mikir, buat memperbaiki semuanya.“Aku ​​gak bakal ninggalin kamu kok. Aku hanya butuh waktu. Aku janji balik.”Kalimat itu menenangkan, tapi juga mematikan. Karena sejak hari itu, aku hidup di antara menunggu dan menyangkal. Hari demi hari berlalu. Pesannya makin jarang. Panggilannya menghilang. Tapi aku tetap menunggu karena aku masih percaya janji yang ternyata hanya ucapan kosong. Sampai suatu saat, dunia seakan berhenti. Aku melihat fotonya di media sosial. Darren bersama perempuan lain. Perempuan yang dulu sering disebut “teman satu proyek.” Tangannya yang dulu menggenggamku kini menggenggam tangan yang lain, pandangan yang dulu menenangkanku kini jatuh pada sosok itu. Dan yang sangat menjijikkan mereka terlihat bahagia seolah-olah aku tak pernah ada. Aku tahu, perempuan itu tahu tentangku. Dia tahu aku dan Darren pernah bersama. Tapi dia tetap di sana, tersenyum seolah semuanya baik-baik saja.Tidak ada penyesalan di matanya, tidak ada rasa puas. Hanya kebanggaan karena berhasil merebut sesuatu yang bukan miliknya. Dan Darren…Lelaki yang dulu bilang tidak akan pergi, kini bersembunyi di balik kata “takdir.” Padahal sebenarnya, dia hanya ingin punya tempat baru untuk bersandar. Aku tidak menangis saat itu. Hanya ada keheningan yang panjang, seperti sesuatu dalam diriku yang perlahan mati. Ternyata bukan waktu yang dia butuhkan tapi keberanian untuk jujur​​bahwa dia telah membohongi aku juga. Beberapa minggu kemudian, pesannya datang lagi. “Kamu baik-baik aja, Nay? Aku cuma gak mau kamu benci aku.” Aku menatap layar lama. Kali ini tidak ada air mata, tidak ada rindu. Hanya benci, karena seseorang yang pernah membuat setulus itu, kini begitu asing. Lalu aku menutup ponselku tanpa membalas pesannya. Aku tidak lagi ingin memaafkan seseorang yang bahkan tidak menyesali perbuatannya. Malam itu, aku menulis di buku catatanku. “Kadang,orang yang paling kamu percayai adalah orang yang paling pandai menyimpan dokumentasi.”Sekarang aku sudah bisa tersenyum kembali.Bukan karena ada yang baru, tapi karena aku sudah berhenti berharap yang lama.Aku menemukan kembali diriku dalam tenang ,membaca buku sore di taman, dan ditemani aroma kopi hangat, dalam lembar yang kutulis tanpa nama siapa pun.Aku sudah berhenti bertanya mengapa dia pergi. Karena ternyata, kehilangan bukan akhir dari segalanya.Kadang, itu awal untuk kembali mencintai diri sendiri.Kini, aku bukan lagi perempuan yang menunggu janji,tapi perempuan yang memilih berjalan sendiri .Karena aku Tahu, kebahagiaan sejati tidak datang dari seseorang yang datang untuk mengisi, tapi dari hati yang pernah Hancur, dan belajar untuk utuh lagi.

Related posts

Cerita Indah di Balik Akuarium

Na ifa

Senja yang Membawa Kenangan

Bela Dwi Lestari

Di Balik Senyum Laila

Ghinan Nafsi

Leave a Comment