Di cermin kamar yang mulai berembun, aku menatap bayangan yang tak selalu bisa kuterima. Kaca itu memantulkan wajah yang kukenal, tapi kadang terasa asing. Kulitku tidak sehalus milik saudara-saudaraku, mataku tidak seindah yang sering orang puji. Aku mencoba senyum di balik kaca, tapi senyum itu terasa berat — bukan lahir dari bahagia, melainkan dari kebiasaan menutupi luka.
Setiap kali keluarga besar berkumpul, suara-suara kecil itu kembali berdengung di telingaku.
“Wah, kamu cantik sekali ya, kulitnya putih dan halus.” “Senyumnya manis banget.”
Kata-kata itu tampak sederhana, tapi bagiku seperti jarum halus yang menusuk perlahan. Aku tidak menangis, hanya diam. Diam yang panjang, diam yang kupakai untuk melindungi perasaan sendiri. Aku menunduk, menahan semua rasa, berusaha terlihat tenang walau hatiku bergetar.
Aku tidak ingin terlihat cemburu, tidak ingin dianggap kecil hati. Maka setiap pujian yang bukan untukku, kuterima dengan senyum. Setiap perbandingan yang menyakitkan, kujawab dengan diam. Tapi diam itu bukan berarti tak terluka. Di dalam diriku, ada gelombang kecil yang terus berputar — tanya, kecewa, dan keinginan untuk bisa berdamai dengan wajah yang menatap balik dari kaca itu.
Meski begitu, aku tetap mencintai saudara-saudaraku. Aku tahu mereka pantas dipuji — ramah, ceria, dan berparas manis. Namun, kata-kata ringan mereka kadang terasa berat di dadaku.
“Kamu itu manis, cuma nggak tahu caranya bergaya.” “Coba saja kamu seperti kami.”
Kalimat sederhana, tapi bagi hati yang lelah, terdengar seperti retakan kecil di kaca yang sudah lama retak. Aku hanya tersenyum, berpura-pura tak apa, padahal dadaku terasa sempit.
Suatu malam, ketika rumah sunyi dan hanya cahaya bulan menembus tirai, aku duduk di depan cermin lebih lama dari biasanya. Untuk pertama kalinya, aku tidak menunduk. Aku menatap mataku sendiri — lama, diam, tapi jujur. Di sana aku melihat seorang diri yang lelah, tapi tetap bertahan. Air mata menetes pelan, lalu senyum di balik kaca kecil muncul, bukan untuk berpura-pura, tapi untuk menerima.
Malam itu, aku tidak berjanji untuk berubah. Aku hanya berjanji untuk kuat. Untuk mencintai diri ini dengan cara paling sederhana — dengan tidak lagi membenci bayangan di balik kaca.
Kini, setiap kali aku menatap cermin, aku masih tersenyum. Mungkin bukan senyum yang sempurna, tapi senyum yang nyata. Sebab aku akhirnya tahu, keindahan bukan soal seberapa halus kulitmu, tapi seberapa tulus kamu memandang dirimu sendiri.
Dan di balik kaca itu, aku menemukan diriku — bukan versi yang sempurna, tapi versi yang akhirnya berani memancarkan senyum di balik kaca yang tulus.