Feature

Selogudig Wetan: Desa yang Membuat Saya Merasa Pulang

Feature

Feature – Rafli Rhomadhoni

“Ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di Desa Selogudig Wetan, selepas saya merantau ke kota sebrang, suasana yang saya rasakan bukan sekadar tempat baru yang saya kunjungi. Ada sesuatu yang lebih dalam, seperti menemukan sebuah rumah lama yang hangat, penuh dengan cerita dan kehangatan yang sulit saya jelaskan dengan kata-kata.Desa ini sederhana, namun hidupnya begitu kaya. Pagi hari, saya terbangun oleh suara burung dan adzan dari masjid yang berdiri kokoh di tengah desa. Warga di sana sangat ramah, mereka menyambut saya bukan hanya dengan senyum, tapi dengan hati yang tulus. Kebersamaan di desa ini terasa nyata, bukan hanya sekadar wacana.Saya sempat ikut bergotong royong membersihkan jalan kecil menuju sawah. Di sana saya belajar bahwa di Selogudig Wetan, pekerjaan berat tidak pernah dilakukan sendirian. Ada kekuatan kolektif yang mengikat mereka, kekuatan yang mungkin sudah hilang di banyak tempat lain.Masyarakatnya sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan tradisi. Saya mengikuti pengajian kecil di salah satu rumah warga, di mana anak-anak belajar mengaji dengan penuh semangat. “Ini bukan sekadar kewajiban,” kata seorang ibu di sana, “tapi cara kami menjaga warisan leluhur dan iman.”Selain itu, saya juga melihat potensi besar di bidang pertanian yang belum banyak terekspos. Para petani muda mulai mencoba cara-cara baru yang ramah lingkungan dan menggunakan teknologi sederhana untuk meningkatkan hasil panen mereka. Ini membuat saya optimis bahwa desa kecil ini punya masa depan cerah.Namun tentu saja, ada juga tantangan. Jalan menuju desa masih ada yang berlubang, akses pendidikan dan kesehatan belum optimal. Tapi, saya melihat bagaimana semangat warganya menjadi bahan bakar untuk terus memperbaiki diri dan lingkungan.Selogudig Wetan mengajarkan saya bahwa desa bukan sekadar soal infrastruktur atau ekonomi, tapi soal manusia dan hati yang hidup bersama. Di sinilah saya merasakan arti “pulang”—bukan hanya pada sebuah tempat, tapi juga pada rasa kebersamaan dan kehangatan manusia.

Related posts

Aksi Penarikan Motor Secara Paksa Kembali Terjadi di Wilayah Kabupaten Probolinggo

Lukmanul Hakim

MENGETUK PINTU LANGIT

Imam Ghozali

Bawang Merah Probolinggo Semakin Diburu, Petani Akui Mutunya Stabil dan Tahan Lama

Jamilatuz Zahro

Leave a Comment