Ibu adalah cahaya yang lahir dari bumi—diam, sederhana, namun menghidupi segalanya. Dari langkahnya yang perlahan, tumbuh sejuta kasih yang tak pernah meminta balasan. Tangannya mungkin lelah, suaranya kerap tertahan oleh penat, tetapi doanya tak pernah letih menyebut nama anak-anaknya.
Dalam sunyi pagi, ibu adalah yang pertama terjaga. Ia menyapa hari dengan harap, meski semalam tak sepenuhnya beristirahat. Di balik wajahnya yang teduh, tersimpan kekuatan yang tak terlihat—kekuatan untuk mengalahkan rasa takut, menahan luka, dan tetap tersenyum demi kebahagiaan keluarga.
Kasih ibu bukan sekadar kata, melainkan laku hidup. Ia hadir dalam makanan yang disiapkan dengan cinta, dalam nasihat yang kadang terdengar tegas, dan dalam pelukan yang selalu menjadi rumah paling aman. Ibu mengajarkan arti sabar tanpa pernah menggurui, mengajarkan ikhlas tanpa banyak bicara.
Sejuta kasih itu tumbuh dari bumi tempat ia berpijak—bumi yang menerima, menguatkan, dan terus memberi. Seperti tanah yang rela diinjak namun tetap menumbuhkan kehidupan, ibu pun rela terlupa demi masa depan anak-anaknya. Ia tidak mencari pujian, sebab kebahagiaannya adalah melihat kita tumbuh dan melangkah lebih jauh darinya.
Maka, jika suatu hari kita merasa kehilangan arah, ingatlah cahaya itu. Cahaya dari bumi yang bernama ibu. Di sanalah sejuta kasih bermula, dan di sanalah kita selalu punya tempat untuk pulang.