Feature

Sampah yang Berubah Jadi Harapan


“Sampah yang Berubah Jadi Harapan”

Setiap pagi, Siti (45), seorang ibu rumah tangga di pinggiran kota, berangkat bukan ke pasar atau kantor, melainkan ke tumpukan sampah. Tangannya yang terbiasa dengan bau menyengat, kini lihai memilah plastik, botol, dan kardus. Bagi sebagian orang, sampah adalah kotoran. Namun bagi Siti, sampah adalah sumber kehidupan.

Siti sudah lima tahun menjadi pemulung. Hasilnya memang tidak besar, tapi cukup untuk menyekolahkan dua anaknya hingga bangku SMP. “Saya ingin anak-anak saya tidak lagi dekat dengan sampah seperti saya,” ucapnya lirih.

Di balik wajah letihnya, ada semangat yang tak pernah padam. Siti percaya, setiap botol plastik yang ia kumpulkan bukan hanya bernilai rupiah, tetapi juga menyelamatkan lingkungan dari pencemaran. Ia bahkan sering mengingatkan tetangganya untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Fenomena ini sejalan dengan data Dinas Lingkungan Hidup yang menyebutkan, Indonesia menghasilkan 68 juta ton sampah setiap tahun. Ironisnya, hanya 39 persen yang berhasil didaur ulang. Siti adalah bagian kecil dari perjuangan besar itu—perjuangan menjaga bumi.

Kisah Siti mengajarkan, bahwa kepedulian pada hal kecil seperti memungut sampah bisa berdampak besar, bukan hanya bagi keluarga, tapi juga bagi masa depan bumi. Dalam kehidupan, tidak ada pekerjaan yang hina selama dilakukan dengan niat baik. Justru, di balik pekerjaan yang sering diremehkan, tersimpan pesan moral: kesederhanaan, ketekunan, dan kepedulian bisa menjadi fondasi perubahan.


Related posts

Indonesia Bersinar di Expo 2025 Osaka: Harmoni Alam, Budaya, dan Masa Depan

Dini Dwi Safitri

Menemukan Cahaya di Tengah Hiruk Pikuk Kehidupan

Siti Masruroh

Kisah Haru Kapal Tebu di Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H

Nur Hayaty

Leave a Comment