Sastra

Reflektif: tentang memahami diri sendiri


Aku yang melepas waktu untuk teman, pasangan, dan keluarga, namun lupa menyisihkan sejenak untuk dirinya sendiri. Yang disebut pengorbanan demi cinta, tersimpul dalam sepi tanya: “Jika aku tak pernah dihargai, untuk apakah aku tetap bertahan dalam linangan sunyi?”

Aku, yang berdiri sendiri.

Tak meminta balasan berkilau, tanpa harap sorotan gemerlap, tanpa perlu pujian yang berlebihan. Hanya sekadar ingin dipahami. Sedikit saja, cukup untuk mengerti keberadaanku seperti aku berusaha memahami setiap insan, walau seringkali aku sendiri terperangkap dalam ketidakmengertian terhadap diriku.

Apabila tiada satu pun di antaranya mampu menangkap bayanganku yang tersembunyi maka, wahai Ilahi…
Karuniakanlah aku keberuntungan dalam beragam rupa.
Apa saja, yang bisa membisikkan rasa cukup dalam kalbu yang sendu. Limpahkanlah limpahan rezeki bagi hati yang murah menunduk. Perkuatkan sabarku yang mulai rapuh namun tetap setia pada janji dirinya.


Related posts

“Suara dari Balik Jendela”

Moh. Afdil Maulidin

Mimpi yang Tertinggal di Ruang Praktikum

Zida Sabrina

Lintasan

Seftiana Sya'baniah

Leave a Comment