Fiksi

Rasa yang Menuntun Nuna

Aku selalu merasa diriku biasa saja. Tidak pandai bernyanyi, tidak pintar melukis, bahkan menulis pun rasanya sulit. Kadang aku iri melihat orang lain yang tampak punya bakat jelas. Sementara aku? Entah apa yang bisa kubanggakan.

Hingga suatu hari, tanpa sengaja aku menemukan sesuatu yang membuatku betah berlama-lama: memasak. Awalnya hanya karena kegemaranku ngemil. Daripada terus membeli, aku mencoba membuat sendiri. Tidak kusangka, hasilnya lumayan.

Suatu sore, aku memberanikan diri masuk ke dapur. Dengan bahan seadanya, aku mencoba mengolah makanan sederhana. Wajan mulai berdesis, aroma harum pelan-pelan memenuhi ruangan.

Ibuku, yang duduk di ruang tamu, penasaran dan menghampiri.
“Wangi sekali… boleh Ibu coba?” tanyanya sambil tersenyum.

Dengan sedikit ragu, aku menyodorkan hasil masakanku. Ibu mencicipi perlahan, lalu menatapku dengan mata berbinar.
“Nuna, ini enak sekali. Ibu yakin kamu punya bakat di sini.”

Aku terdiam, jantungku berdebar. Tak kusangka pujian itu keluar dari ibuku. Tak lama kemudian, adikku datang dan ikut mencoba.
“Kak, serius, ini enak banget. Bikin lagi ya!” katanya sambil mengunyah lahap.

Saat itu juga aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Dari kebiasaan kecilku ngemil, aku menemukan hal baru yang membuatku percaya diri. Aku tidak hanya bisa memasak, tapi juga membuat orang lain bahagia dengan hasil tanganku.

Related posts

The Old Man and the Sea – Ernest Hemingway

halo.narasimu

Kursi yang Kosong

Putri Syafarista

Lumpu – Tere Liye

halo.narasimu
error: Content is protected !!