Di bawah lembayung yang perlahan redup,
aku mengenang jejak langkahmu
renjana yang tak usai dihapus waktu.
Ada anila berbisik lembut di antara mega,
membawa aroma hujan yang memeluk ingatan,
tentang tawa yang kini gulita,
namun masih bergema selamanya di kalbu ini.
Kau pernah jadi pelita,
menuntun hatiku yang gundah menuju nirmala rasa.
Kini hanya gema,
tapi gemanya tak sementara —
ia tinggal di sanubari, berselimut warna-warna rindu.
Bila waktu menua dan dunia rimpuh,
biarlah namamu tetap berkilau di langit nabastala,
menyala di antara baskara dan chandra,
seolah semesta pun tahu —
cinta yang tulus, tak pernah sirna,
hanya berubah menjadi gema…
yang akan bergema selamanya.
Lly_Senandika