Fiksi

“Pesan Terakhir dari Ayah”

Aku selalu merasa hidupku begitu lengkap. Meski kami hidup sederhana dan ekonomi keluarga tidak selalu berpihak, aku bahagia memiliki ayah dan ibu yang selalu ada di sisiku. Kehangatan keluarga membuatku seakan kuat menghadapi apa pun dalam hidup.

Di usia 18 tahun, aku berhasil memenuhi harapan ayah menghafal kalam-kalam Ilahi. Itu adalah kebanggaan tersendiri bagiku. Aku sempat berpikir setelah itu, aku bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, kenyataannya tak seindah yang kubayangkan. Ayah tampak ragu ketika aku menyampaikan keinginanku untuk melanjutkan studi.

Aku tahu, bukan karena beliau tidak mendukung, tapi karena keadaan ekonomi keluarga yang belum memungkinkan. Meski aku mencoba memahami, hatiku tetap terasa perih. Ada sedikit kecewa dan kesal, karena impian yang sudah lama kusimpan harus kembali kutahan.Belum sempat aku berdamai dengan keadaan, ujian yang lebih berat datang. Ayah jatuh sakit. Tubuhnya lemah, hanya terbaring di atas ranjang rumah sakit.

Aku selalu berada di sampingnya, menatap wajah yang dulu begitu kuat kini tampak rapuh. Saat aku hampir menitikkan air mata, ayah memandangku dan berpesan lirih, “Tetaplah kuat, jangan menangis.”Malam itu aku menemaninya hingga menjelang subuh. Ketika waktu salat tiba, ayah meminta diantar ke kamar mandi untuk berwudu. Setelah itu, beliau menunaikan salat subuh dengan tenang.

Aku tidak pernah menyangka bahwa itu adalah salat terakhirnya. Tak lama kemudian, ayah pergi untuk selamanya.Dadaku sesak. Dunia terasa hampa. Tapi aku mengingat pesannya untuk tetap kuat dan tidak meneteskan air mata. Aku berusaha tegar sepanjang prosesi pemakaman, meski hatiku porak-poranda.

Baru setelah ayah dimakamkan, tangisku pecah tanpa bisa kutahan. Rasa rindu pada sosok yang selalu memanjakanku, menasihatiku, dan menjadi sandaran hidupku, kini tak lagi bisa kutemui.Namun di balik kehilangan itu, aku belajar satu hal: kekuatan bukan berarti tidak menangis, melainkan berani menerima kenyataan dengan ikhlas. Pesan ayah bukan hanya untuk hari itu, tapi untuk seluruh perjalanan hidupku ke depan.

Related posts

Tentang Jarak dan Waktu

Dini Dwi Safitri

Kursi yang Kosong

Putri Syafarista

Malam Yang Kehilangan

Afifah Afifah

Leave a Comment