Hari itu, lapangan kampus penuh oleh wajah-wajah baru yang masih kikuk. Seragam putih abu-abu yang kini berganti jaket almamater seolah menandai lembar hidup yang baru. Di tengah teriakan panitia ospek yang lantang, ada satu momen yang tak disengaja, seorang perempuan dan seorang laki-laki bertabrakan kecil saat hendak mengambil daftar absen.
“Maaf,” ucapnya singkat, tapi tatapan mereka sempat saling bertaut sebentar, cukup untuk menanamkan rasa yang tak bernama.
Hari-hari ospek berikutnya membuat mereka lebih sering berpapasan. Kadang hanya saling melempar senyum singkat, kadang berbicara dua-tiga kalimat yang sebenarnya tak penting, namun cukup untuk meninggalkan jejak hangat. Hingga tanpa disadari, kedekatan kecil itu tumbuh, seperti benih yang diam-diam menyerap cahaya.
Mereka mulai berjalan bersama menuju kelas pengenalan, berbagi cerita tentang jurusan, tempat asal, dan hal-hal remeh yang terasa menyenangkan hanya karena dibicarakan berdua. Ada rasa nyaman yang tidak diumumkan, tapi terasa diam-diam di antara langkah kaki.
Namun, seperti semua cerita yang tidak diberi janji, kenyataan datang tanpa mengetuk. Di penghujung ospek, ia memperkenalkan seseorang—seorang perempuan yang menggenggam tangannya dengan yakin.
Pacarnya.
Saat itu, semuanya mendadak terasa asing. Tatapan yang dulu sempat hangat kini terasa berjarak. Percakapan mereka berhenti di titik yang canggung, dan kedekatan yang belum sempat diberi nama perlahan surut seperti air pasang yang kembali ke laut.
Perempuan itu hanya tersenyum tipis, menyembunyikan sesuatu yang bahkan belum sempat tumbuh. Sebab bagaimana mungkin ia merindukan seseorang yang sebenarnya tak pernah menjadi miliknya?
Pertemuan itu singkat. Tapi diam-diam, ia menyisakan ruang kecil di hati—bukan untuk penyesalan, melainkan sekadar pengingat bahwa beberapa orang datang bukan untuk tinggal, hanya untuk menunjukkan bahwa hati manusia bisa bergetar bahkan dari hal yang sesederhana, sebuah pertemuan tanpa rencana.