Insight

Perceraian karena Media Sosial: Ketika Notifikasi Mengalahkan Komunikasi

Media sosial awalnya diciptakan untuk mendekatkan yang jauh. Namun dalam banyak rumah tangga, justru ia menjadi jarak baru yang pelan-pelan memisahkan. Perceraian akibat media sosial bukan lagi isu pinggiran, melainkan fenomena nyata yang didukung oleh data.

Sejumlah penelitian menunjukkan korelasi kuat antara penggunaan media sosial yang berlebihan dengan meningkatnya konflik rumah tangga. Studi dari Journal of Social and Personal Relationships mencatat bahwa pasangan yang menghabiskan waktu lebih dari dua jam per hari di media sosial memiliki tingkat kepuasan pernikahan yang lebih rendah dibanding mereka yang penggunaannya terbatas. Masalah utamanya bukan sekadar durasi, tetapi hilangnya kualitas komunikasi.

Data lain dari American Academy of Matrimonial Lawyers menyebutkan bahwa lebih dari 80% kasus perceraian di Amerika Serikat melibatkan bukti dari media sosial, mulai dari pesan pribadi, komentar, hingga unggahan yang memicu kecemburuan dan konflik. Media sosial menjadi “saksi bisu” dari masalah yang sebelumnya tersembunyi.

Di Indonesia, meski data resmi perceraian karena media sosial jarang disebutkan secara eksplisit, Mahkamah Agung RI mencatat bahwa perselisihan dan pertengkaran terus-menerus menjadi penyebab utama perceraian. Dalam praktiknya, banyak konflik ini dipicu oleh hal-hal yang berakar dari media sosial: komunikasi dengan orang ketiga, kecemburuan digital, hingga perbandingan hidup yang tidak sehat.

Fenomena digital infidelity atau perselingkuhan digital juga semakin mengkhawatirkan. Survei oleh YouGov menunjukkan bahwa hampir 1 dari 5 orang menganggap chatting intens dengan lawan jenis di media sosial sebagai bentuk perselingkuhan. Masalahnya, batas antara “sekadar ngobrol” dan “keterikatan emosional” sering kali kabur, terutama ketika dilakukan secara rutin dan sembunyi-sembunyi.

Media sosial juga memicu ekspektasi tidak realistis dalam pernikahan. Algoritma terus menampilkan potret rumah tangga ideal—pasangan harmonis, ekonomi mapan, liburan romantis—tanpa menampilkan konflik di baliknya. Akibatnya, pasangan mulai membandingkan kehidupan nyata dengan ilusi digital. Riset dari University of Copenhagen menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial berkorelasi dengan meningkatnya rasa tidak puas terhadap kehidupan pribadi, termasuk pernikahan.

Ironisnya, banyak pasangan tinggal serumah, namun sibuk dengan dunia masing-masing di layar. Percakapan berkurang, empati menipis, dan masalah kecil membesar karena tidak pernah dibicarakan secara utuh. Media sosial tidak merusak pernikahan secara langsung, tetapi mempercepat retaknya hubungan yang sudah rapuh.

Kesimpulannya jelas: media sosial bukan penyebab tunggal perceraian, tetapi ia adalah katalis yang kuat. Ketika tidak dikelola dengan bijak, media sosial bisa menggeser prioritas—dari pasangan ke ponsel, dari komunikasi nyata ke validasi digital.

Di era digital, menjaga pernikahan bukan hanya soal kesetiaan fisik, tetapi juga kesetiaan digital. Sebab rumah tangga tidak runtuh karena satu unggahan, melainkan karena terlalu banyak hal penting yang tidak lagi dibicarakan, sementara layar terus menyala.

Daftar Rujukan

Clayton, R. B., Nagurney, A., & Smith, J. R. (2013). Cheating, breakup, and divorce: Is Facebook use to blame? Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 16(10), 717–720.

Valenzuela, S., Halpern, D., & Katz, J. E. (2014). Social network sites, marriage well-being and divorce: Survey and state-level evidence from the United States. Computers in Human Behavior, 36, 94–101.

McDaniel, B. T., & Coyne, S. M. (2016). “Technoference”: The interference of technology in couple relationships and implications for women’s personal and relational well-being. Psychology of Popular Media Culture, 5(1), 85–98.

American Academy of Matrimonial Lawyers (AAML). (2010). Impact of Social Networking on Divorce.
YouGov Survey. (2015). Is online flirting cheating?

Kross, E., et al. (2013). Facebook use predicts declines in subjective well-being in young adults.
PLOS ONE, 8(8): e69841.

Twenge, J. M. (2019). The sad state of happiness in the United States and the role of digital media. World Happiness Report.

Related posts

USTADZ ADI HIDAYAT: CAHAYA ILMU DI ZAMAN MODERN

Muhammad Hanif Asyari

Karena Mereka, Aku Tak Pernah Menyerah

Afifah Afifah

Yuliatus Soliha: Sosok yang Tumbuh Bersama Dedikasi dan Ketulusan

Nofia Sugist

Leave a Comment