Fiksi

Pedagang Waktu di Sudut Pasar

Kota Lumina pagi itu diselimuti kabut tipis. Di antara deretan kios buah, warung kopi, dan penjual jam tangan bekas, ada satu lapak kecil yang tak pernah berubah sejak bertahun-tahun lalu. Di papan kayunya tertulis: “Menjual dan Membeli Waktu.”

Tak ada yang tahu sejak kapan kios itu berdiri. Pemiliknya, seorang pria tua berjas abu-abu yang dipanggil Pak Nara, selalu duduk di belakang meja kayu dengan jam pasir besar di sampingnya. Ia tidak menjual arloji, kalender, atau alarm. Barang dagangannya jika bisa disebut begitu adalah waktu itu sendiri.

“Berapa harga satu jam muda kembali?” tanya seorang wanita berwajah lelah, pagi itu. Pak Nara menatapnya dengan mata teduh. “Satu jam mudamu setara dengan dua hari masa depanmu,” jawabnya pelan.

Wanita itu tertawa kecil, mengira itu lelucon. Tapi setelah ia menerima sebutir pasir keemasan dari jam besar di meja, tubuhnya perlahan menegak, kerut di wajahnya memudar, dan rambut putihnya berubah hitam kembali. Orang-orang di sekitar tertegun.

Namun sebelum ia sempat menikmati keajaiban itu, matanya kosong, lalu ia lenyap, seperti tertiup angin. Hanya kalungnya yang tersisa di tanah.

Warga pasar geger. Ada yang menuduh si kakek sebagai penyihir, ada pula yang menganggapnya sekadar trik sulap. Tapi meski polisi sempat mendatanginya, tak ada bukti pelanggaran. Jam pasir itu hanya berisi butiran pasir biasa, katanya.Namun penduduk Lumina tahu, tak ada yang biasa dari kios itu.

Sejak kejadian itu, banyak orang datang diam-diam. Ada yang ingin membeli masa lalu untuk memperbaiki kesalahan, ada yang ingin menukar masa depan demi satu hari bersama orang yang telah tiada. Pak Nara tak pernah menolak, tapi selalu berkata hal yang sama:

“Waktu bukan hadiah, tapi pinjaman.”

Salah satu pengunjung yang pernah datang adalah Reno, jurnalis muda dari Harian Fajar Kota, koran tempat artikel ini diterbitkan. Reno datang dengan tujuan menulis liputan investigatif, namun justru menemukan hal yang tak masuk akal.

“Aku ingin kembali lima menit sebelum kecelakaan itu,” katanya pada Pak Nara, mengacu pada tragedi yang merenggut kekasihnya tahun lalu.

Pak Nara menatapnya lama, lalu menuangkan pasir dari jam besar itu ke botol kecil.

“Bayarnya satu tahun masa hidupmu,” katanya.Reno ragu, tapi akhirnya mengangguk.

Besoknya, Reno ditemukan di dekat rel kereta hidup, tapi terlihat jauh lebih tua. Rambutnya memutih sebagian, dan di sakunya terdapat catatan singkat:

“Aku menyelamatkannya. Tapi waktu tak pernah gratis.”

Sejak itu, kios Pak Nara tak pernah buka lagi. Lapak kayu itu kini kosong, hanya tersisa papan tua bertuliskan:

“Setiap detik adalah dagangan, setiap pilihan adalah harga.”

Penduduk pasar percaya, Pak Nara masih berdagang, hanya saja tidak di dunia ini. Beberapa bersumpah melihat sosoknya di perempatan kota, duduk di bangku taman, menatap jam saku yang berdetak mundur. Ada pula rumor bahwa siapa pun yang benar-benar menyesali masa lalunya, akan mendengar bisikan di telinga:

“Waktumu bisa dibeli, jika kau siap membayarnya.”

Entah benar atau tidak, cerita tentang pedagang waktu itu kini menjadi legenda urban di Kota Lumina.

Para jurnalis muda menjadikannya bahan tulisan, anak-anak menyebutnya dongeng pengantar tidur, dan orang tua menakut-nakuti anak mereka agar tidak menunda-nunda:

“Jangan buang waktumu, nanti dibeli Pak Nara.”

Namun di antara semua rumor itu, satu hal tetap pasti:Waktu memang bisa “dijual”, bukan dengan emas atau uang, tapi dengan hidup itu sendiri. Dan di dunia yang terus berlari, mungkin tak ada pedagang yang lebih jujur dari orang yang memperingatkan kita tentang harga setiap detik.

Related posts

Menebus180 Hari dengan Hitungan Detik

Zida Kamalia

Menemukan Kuatku di Balik Jarak

Nofia Sugist

Senja yang Membawa Kenangan

Bela Dwi Lestari

Leave a Comment