Sastra

Mimpi yang Tertinggal di Ruang Praktikum

Ada masa di mana aku yakin benar tentang arah hidupku. Aku ingin memakai seragam putih, membawa stetoskop, dan membantu orang-orang yang kesakitan. Sejak duduk di bangku SMK Kesehatan, dunia itu terasa begitu dekat, aroma antiseptik, suara langkah di lorong Puskesmas, hingga senyum pasien yang perlahan menunjukkan tanda prognosis membaik. Di sana, aku merasa berguna. Aku merasa hidup.

Tapi hidup, rupanya, punya cara sendiri untuk mengubah diagnosis. Setelah lulus, semua rencana yang sudah kususun seperti rekam medis yang runtuh datanya. Jalan ke jurusan kesehatan tertutup, dan aku malah “dirujuk” di tempat yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Pendidikan Bahasa Indonesia. Ironis, ya? Dari menghafal anatomi tubuh, kini aku mempelajari anatomi kalimat dan struktur sintaksis.

Awalnya, aku mengalami semacam shock terapi bukan pada tubuh, tapi pada jiwa. Aku merasa gagal, seolah semua idealisme tentang dunia medis mengalami gagal fungsi sistemik. Tapi waktu berjalan, dan pelan-pelan aku belajar menerima. Ternyata, dunia ini tak sesempit yang dulu kupikirkan. Di ruang kuliah yang penuh kata dan makna, aku menemukan cara baru untuk “menyembuhkan”, bukan luka fisik, tapi luka hati. Aku mulai percaya bahwa mungkin Tuhan tidak menyimpangkan alur hidupku, hanya melakukan sedikit rehabilitasi makna,agar aku melihat hidup dari sudut pandang berbeda.

Sekarang, aku tidak lagi menyesali cita-cita yang terkubur. Karena dari sana tumbuh sesuatu yang baru, pemahaman bahwa kadang, proses penyembuhan dan pembelajaran itu mirip, sama-sama butuh waktu, penerimaan, dan empati. Mungkin aku tak lagi jadi “perawat” seperti dulu kuinginkan, tapi siapa tahu… lewat bahasa, aku masih bisa merawat manusia dengan kata-kata.

Kadang hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Aku yang dulu bermimpi memakai seragam putih dan membantu pasien, kini justru memegang spidol dan berbicara di depan kelas. Tapi mungkin, inilah cara semesta mengajarkan bahwa setiap jalan punya makna bahkan yang tidak kita pilih sekalipun.

Mungkin bukan tentang di mana kita memulai, tapi bagaimana kita tumbuh dan memberi arti di tempat kita berdiri sekarang.

Related posts

Malam Terakhir di Bundaran Glaser

Jamilatuz Zahro

Lintasan

Seftiana Sya'baniah

“Suara dari Balik Jendela”

Moh. Afdil Maulidin

Leave a Comment