Setiap pagi, suara gemericik air sungai di pinggiran kota menjadi latar keseharian Siti Rahma. Perempuan 45 tahun itu memulai harinya dengan memunguti sampah plastik yang hanyut di aliran sungai depan rumahnya. Bukan karena pekerjaan, tapi karena kepedulian. “Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?” ujarnya sambil menepikan kantong plastik yang menempel di batu. Sungai itu, yang dulu jernih dan menjadi sumber air warga, kini lebih sering berwarna kecokelatan.
Perubahan sungai bukan terjadi dalam semalam. Bertahun-tahun, warga sekitar membuang limbah rumah tangga langsung ke aliran air. Plastik, botol bekas, hingga popok bayi hanyut bersama arus, menciptakan bau menyengat. Siti mengaku hatinya miris melihat anak-anak bermain di tepi sungai yang kotor. Dari rasa prihatin itulah, ia mulai mengajak tetangga untuk bergotong royong membersihkan sungai setiap akhir pekan.
Awalnya, ajakan itu hanya diikuti segelintir orang. Namun lambat laun, semakin banyak warga yang bergabung. Mereka menamai gerakan itu “Sahabat Sungai Bersih”. Setiap Sabtu pagi, mereka membawa karung dan sarung tangan, mengumpulkan sampah lalu menanam pohon di bantaran sungai. Kegiatan itu kemudian menarik perhatian dinas lingkungan hidup setempat yang kini rutin membantu menyediakan tempat sampah dan bibit tanaman.
Perlahan, hasilnya mulai terlihat. Air sungai menjadi lebih jernih, ikan-ikan kecil kembali muncul, dan anak-anak kini bisa bermain tanpa takut sakit kulit. Lebih dari itu, kebersamaan warga juga tumbuh. Sungai bukan lagi dianggap sebagai tempat membuang sampah, tapi sebagai bagian dari kehidupan yang perlu dijaga. “Kami sadar, menjaga sungai sama dengan menjaga masa depan,” kata Siti sambil tersenyum.
Gerakan sederhana ini menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil. Dari satu tangan yang peduli, lahir gerakan yang menular. Sungai yang dulu menjadi sumber masalah, kini menjadi sumber kebanggaan. Alam yang dirawat dengan cinta, pada akhirnya akan mengembalikan kebaikan kepada manusia.