Insight

“Menguat Bersama Tantangan, Maju Bersama Harapan”

Sitti Suraiyah lahir di Probolinggo pada tanggal 30 Maret 2002. Ia berasal dari Desa Dawuhan, Kecamatan Krejengan, Probolinggo. Dikenal sebagai sosok yang sederhana namun bersemangat, Sitti Suraiyah tumbuh dengan tekad yang kuat untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan diri. Latar belakangnya yang dekat dengan kehidupan masyarakat desa membuatnya memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sekitar serta semangat untuk memberi manfaat bagi banyak orang. Selain itu, ia juga dikenal sebagai wanita yang gigih dan tekun dalam mencari ilmu. Karakter disiplin serta komitmennya yang kuat menjadikan pribadi yang terus melangkah maju dalam meraih setiap cita-cita yang ia impikan.

Perjalanan tantangan dalam mencari Ilmu tantangan bukan rintangan dalam perjalanan mencari ilmu, dia percaya bahwa tidak ada yang termasuk rintangan yang ada hanyalah tantangan yang memperkuat, mempertajam pemikiran, dan mengembangkan kapasitas diri.

Tantangan mendapatkan beasiswa

Tantangan pertama hadir ketika ia berjuang meringankan beban orang tua dengan berharap memperoleh beasiswa. Pengajuan beasiswa KIP Kuliah belum berhasil, namun ia tidak berhenti berusaha. Ia mendaftar keringanan UKT dan alhamdulillah diterima. Kemudian, di semester ketiga, ia kembali mencoba beasiswa prestasi akademik dan berhasil lolos. Dari sini ia belajar bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan awal dari kesempatan baru.

Culture shock Budaya dan Adaptasi Bahasa

Melanjutkan studi di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung membawa tantangan baru, yaitu budaya dan bahasa. Tulungagung yang kaya tradisi dan warisan budaya membuatnya harus beradaptasi dengan cepat. Tantangan terbesar baginya adalah adaptasi bahasa Jawa, dan lingkungan baru yang berbeda dengan Probolinggo. Namun rasa ingin tahu dan keuletannya membuat ia terus belajar hingga mampu melewati masa adaptasi itu.

Jarak dan Kerinduan

Merantau berarti berani menghadapi rindu. Jarak yang terpisah dari keluarga dan teman-teman di Probolinggo menjadi tantangan emosional tersendiri. Kerinduan itu tidak selalu mudah untuk diungkapkan, tetapi justru menjadi energi yang menguatkan langkahnya di tanah rantau.

Menentukan Arah Setelah Lulus

Setelah lulus strata 1, dilema muncul: menjadi guru, bekerja paruh waktu, atau lanjut studi. Rekomendasi dosen mendorongnya mendaftar di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan ia diterima di jurusan Sejarah Peradaban Islam. Namun orang tua belum mengizinkan, dan ia menghormati keputusan itu. Tidak berhenti di sana, ia kembali mendaftar ke Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dan diterima. Dengan dukungan penuh dari keluarga, ia menekankan satu hal tidak akan menyia-nyiakan kesempatan menimba ilmu, terutama dengan memperbanyak karya tulis ilmiah seperti jurnal dan tulisan akademik lainnya.

Kata-Kata Motivasi

Sebagai seseorang yang mencintai dunia sejarah dan pengetahuan, Sitti Suraiyah menjadikan pemikiran beberapa tokoh besar sebagai pijakan dalam menjalani perjalanan akademiknya. Ia oleh Pramoedya Ananta Toer yang mengatakan bahwa “menulislah, karena tanpa menulis Anda akan hilang dari pusaran sejarah yang terinspirasi.” Baginya, kutipan ini menjadi pengingat bahwa tulisan adalah jejak peradaban dan cara manusia memastikan dirinya tidak hilang dari sejarah. Selain itu, ia juga mengambil pelajaran dari kutipan Adolf Hitler, “Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Jika kamu melakukannya, kamu menghina dirimu sendiri,” yang mengajarkannya untuk tidak membandingkan diri dengan orang lain, melainkan fokus pada proses, potensi, dan perkembangan diri sendiri.

Related posts

Ketekunan yang Tak Terlihat: Kisah Tobias Justin dan Seni Menempa Mental Lewat Kegagalan

Alek Permadani

Najwa Shihab Sosok Teladan Perempuan Profesional dan Mandiri

Bela Dwi Lestari

MAUDY AYUNDA

Alviatur Riska

Leave a Comment