Feature

Mengapa Si Kecil Malas ke Sekolah? Ini 5 Alasan yang Perlu Dipahami Orang Tua

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa si kecil tiba-tiba menolak berangkat ke sekolah, merengek di pagi hari, atau bahkan pura-pura sakit? Fenomena anak malas sekolah bukan sekadar “manja” atau “tidak disiplin”. Di baliknya, ada banyak faktor kompleks — mulai dari psikologis, sosial, akademis, hingga lingkungan dan keluarga. Berikut ulasan mendalam yang bisa membantu orang tua memahami dunia kecil mereka dengan lebih empatik.


1. Faktor Psikologis dan Perkembangan

Bagi anak-anak, sekolah bisa terasa seperti dunia yang besar, penuh aturan, dan jauh dari rasa aman di rumah. Beberapa anak mengalami school anxiety, yaitu rasa cemas berpisah dari orang tua (separation anxiety) atau takut pada situasi baru, seperti dimarahi guru atau tidak diterima teman.

Selain itu, kejenuhan dan kelelahan mental juga bisa muncul. Anak-anak yang aktif secara fisik akan sulit duduk diam berjam-jam, mendengarkan pelajaran tanpa variasi. Ditambah lagi, tuntutan akademis yang terlalu dini, seperti menekankan calistung pada usia yang belum siap, bisa membuat anak kehilangan semangat belajar.

Jika hal ini berlarut, mereka bisa merasa rendah diri karena merasa “tidak sepintar teman-temannya”, dan akhirnya mengasosiasikan sekolah dengan kegagalan.


2. Faktor Sosial

Sekolah adalah dunia sosial pertama bagi anak. Di sini, mereka belajar berteman, bekerja sama, dan menghadapi konflik. Namun, bagi anak yang pemalu atau kesulitan bersosialisasi, sekolah bisa menjadi tempat yang menegangkan.

Masalah semakin serius jika muncul bullying — baik verbal, fisik, maupun sosial. Perundungan dapat menimbulkan trauma dan rasa takut mendalam, hingga anak menolak kembali ke sekolah.

Selain itu, tekanan untuk menyesuaikan diri dengan standar yang seragam juga bisa membuat anak yang unik merasa terkekang dan tidak diterima.


3. Faktor Akademis dan Metode Pengajaran

Kurikulum dan cara mengajar sangat berpengaruh terhadap semangat anak. Metode yang kaku dan monoton — hanya ceramah dan mencatat — membuat anak cepat bosan. Anak-anak belajar lebih baik melalui aktivitas interaktif dan permainan yang melibatkan gerak dan visual.

Anak juga sering kehilangan motivasi jika pelajaran terasa tidak relevan dengan kehidupan nyata. Mereka mungkin bertanya, “Kenapa aku harus belajar ini?” tanpa mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Belum lagi, tugas rumah (PR) yang berlebihan bisa memotong waktu bermain dan istirahat, membuat anak merasa sekolah hanyalah sumber tekanan tambahan.


4. Faktor Lingkungan Fisik dan Biologis

Kadang, masalah sederhana seperti kurang tidur bisa jadi penyebab utama. Anak yang tidur larut akan kesulitan bangun pagi, merasa lelah, dan tidak fokus di sekolah.

Selain itu, lingkungan sekolah yang kurang nyaman, seperti ruang kelas panas, berisik, atau minim fasilitas bermain, turut menurunkan semangat belajar.

Beberapa anak juga mengalami masalah kesehatan yang tidak terdeteksi, seperti gangguan penglihatan, pendengaran, atau gangguan belajar seperti disleksia dan ADHD. Tanpa intervensi yang tepat, anak akan merasa frustrasi karena terus tertinggal.


5. Faktor dari Rumah

Tidak sedikit anak yang membawa beban dari rumah ke sekolah. Ekspektasi orang tua yang terlalu tinggi bisa membuat anak takut gagal dan kehilangan kegembiraan belajar.

Sementara itu, masalah keluarga seperti konflik atau suasana rumah yang tidak harmonis membuat anak sulit berkonsentrasi. Sekolah pun jadi tempat yang tidak menyenangkan karena pikirannya masih terbebani masalah pribadi.


Kesimpulan

Anak yang malas sekolah bukan berarti malas belajar. Mereka mungkin sedang berjuang menghadapi tekanan psikologis, sosial, atau akademis yang belum mampu mereka ungkapkan. Sebagai orang tua dan pendidik, memahami penyebab di balik perilaku mereka adalah langkah pertama menuju solusi yang tepat.

Mendengarkan, memahami, dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan akan jauh lebih efektif dibanding sekadar memaksa. Karena sejatinya, semangat belajar tumbuh bukan dari tekanan — melainkan dari rasa aman, diterima, dan bahagia.

Related posts

Menyongsong Harapan Baru: PCNU Kota Kraksaan di Tangan Nun Hafid dan Kiai Wasik

hip nara

“Menjaga Alam di Tengah Kota: Kisah Komunitas Hijau Surabaya”

Muhammad Hanif Asyari

Dengan adanya era digital anak muda sudah mulai melupakan mainan tradisional

Moh Juaeni Hisbullah

Leave a Comment