Feature

Menemukan Cahaya di Tengah Hiruk Pikuk Kehidupan

Di tengah derasnya arus kehidupan modern, manusia sering kali terjebak dalam rutinitas tanpa makna. Setiap pagi, jalanan dipenuhi wajah-wajah yang tergesa, mata yang lelah, dan langkah yang seolah dipaksa oleh waktu. Semua berlomba, semua berlari tapi tak semua tahu ke mana sebenarnya tujuan mereka.

Kehidupan memang bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai garis akhir, melainkan siapa yang paling mampu menemukan makna di sepanjang perjalanan. Banyak yang mengukur kebahagiaan dari harta, jabatan, atau pengakuan, padahal sering kali hal-hal kecil justru menjadi sumber kehidupan yang sejati: secangkir kopi di pagi hari, tawa hangat keluarga, atau senyum orang asing di jalan.

Di sebuah desa kecil di pinggiran kota, seorang ibu paruh baya bernama Bu Rina menjalani hidup dengan sederhana. Ia bekerja sebagai penjual kue keliling, berangkat subuh dan baru pulang menjelang siang. Saat ditanya apa yang membuatnya terus semangat, ia hanya tersenyum dan berkata, “Selama masih bisa membuat orang lain tersenyum, saya sudah bahagia.”

Ucapan itu mungkin terdengar biasa, tapi di balik kesederhanaannya tersimpan filosofi hidup yang dalam. Hidup bukan tentang seberapa besar kita memiliki, melainkan seberapa tulus kita memberi. Di tengah dunia yang penuh kompetisi, orang seperti Bu Rina mengingatkan kita bahwa keikhlasan adalah bentuk kebahagiaan yang paling murni.

Kini, banyak orang mulai kembali mencari arti hidup yang sesungguhnya. Mereka mulai memperlambat langkah, belajar menikmati waktu, dan menumbuhkan rasa syukur atas hal-hal kecil. Sebab pada akhirnya, kehidupan bukan tentang seberapa lama kita hidup, tapi seberapa berarti waktu yang kita jalani.

Related posts

MENGETUK PINTU LANGIT

Imam Ghozali

Langkah Panjang Menuju Sekolah

Na ifa

Indonesia Bersinar di Expo 2025 Osaka: Harmoni Alam, Budaya, dan Masa Depan

Dini Dwi Safitri

Leave a Comment