Insight

Menapak Sukses dari Kesederhanaan dan Keteguhan Hati

Di Tengah Perjuangan dan Ketekunan

Di tengah gemerlap dunia pendidikan dan ketatnya persaingan akademik, nama Wardanitul Firdausiah bersinar sebagai sosok yang merepresentasikan semangat pantang menyerah dan keteguhan prinsip seorang santri. Mahasiswi Universitas Islam Zainul Hasan (UNZAH) Genggong, Fakultas Tadris Umum, Program Studi Tadris Bahasa Inggris ini, bukan hanya dikenal cerdas dan berprestasi, tetapi juga rendah hati dan kuat menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Lahir dan tumbuh di Desa Randupitu, Gending, Probolinggo, Wardanitul akrab disapa Dania adalah anak kedua dari pasangan Ubaidillah dan Ummi Habibah. Sejak kecil, ia telah menunjukkan tekad besar untuk belajar dan mandiri, meski berasal dari keluarga sederhana. Prinsip hidup yang selalu ia pegang teguh ialah,“Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Akar Perjalanan dan Dunia Pesantren

Perjalanan pendidikannya dimulai ketika ia memutuskan untuk menimba ilmu di Pondok Pesantren Darut Tauhid, Tanjungsari, Krejengan, Probolinggo pada tahun 2016. Sejak saat itu, kesehariannya tak lepas dari kegiatan pesantren belajar, mengajar, dan mengabdi. Meski waktunya banyak tersita untuk menuntut ilmu agama, Dania tetap mampu menyeimbangkan dengan dunia akademik modern.Ketekunan dan disiplin yang ia tanamkan berbuah manis. Ia aktif mengikuti berbagai lomba akademik maupun non-akademik, terutama dalam bidang bahasa Inggris, serta beberapa kali tampil sebagai peserta Gema Bahasa Pidato Bahasa Inggris sejak tahun 2020. Selain itu, ia juga pernah meraih penghargaan sebagai Santri Teladan, serta memperoleh beasiswa pendidikan sejak jenjang SMP hingga kuliah sebuah pencapaian yang menjadi bukti nyata ketekunan dan kerja kerasnya.

Ujian yang Menguatkan

Perjalanan hidup Dania tidak selalu mulus. Di tengah kesibukan kuliah, ia pernah mengalami musibah kehilangan ponsel Android miliknya di kampus. Peristiwa itu hampir membuatnya kehilangan banyak data dan identitas akademik. Namun, bukannya menyerah, ia justru semakin tegar. Ia sementara menggunakan ponsel milik pondok pesantren agar tetap bisa menyelesaikan tugas-tugas kuliah.Dania bahkan sempat menyembunyikan kejadian itu dari kedua orang tuanya demi tidak menambah beban mereka. Hingga akhirnya, sang orang tua mengetahui dan berusaha membelikan ponsel baru dengan cara berutang. Dari situ, Dania semakin bertekad untuk tidak lagi merepotkan orang tuanya. Dengan uang saku harian hanya Rp15.000, ia belajar mengatur uang yaitu Rp5.000untuk transportasi, sisanya untuk makan seadanya. Namun kesederhanaan itu justru menempa mental dan kemandiriannya.

Dari Santri Menjadi Pendidik

Saat memasuki semester 4, Dania mendapat tawaran mengajar sebagai guru Bahasa Inggris di MA Darut Tauhid, Krejengan. Tanpa ragu, ia menerima kesempatan tersebut. Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi meminta uang jajan kepada orang tuanya. Bahkan, ia menabung sebagian dari penghasilannya untuk membantu kebutuhan keluarga, terutama menjelang Idulfitri.Dalam kesehariannya, Dania dikenal sederhana, santun, dan rendah hati. Ia tak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarganya. Ketika akhirnya menyelesaikan pendidikannya dan meraih gelar Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris di UNZAH Genggong, semua biaya wisuda mulai dari kebaya hingga pembayaran administrasi ia tanggung sendiri. Sebuah pencapaian luar biasa dari seorang anak desa yang menapaki jalan sukses lewat kerja keras dan keteguhan hati.

Figur Inspiratif Generasi Muda

Bagi lingkungan kampus dan pesantrennya, Wardanitul Firdausiah adalah simbol bahwa kesederhanaan bukan penghalang untuk berprestasi. Ia menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukan datang dari kelimpahan materi, melainkan dari kemauan, keyakinan, dan kerja keras yang tulus.Dengan latar belakang sebagai santri, pendidik, dan mahasiswa berprestasi, ia menjadi inspirasi bagi banyak pelajar untuk terus melangkah, sekalipun jalan terasa berat. Dalam dirinya, tersimpan pesan penting bagi generasi muda bahwa ilmu, kerja keras, dan ketulusan akan selalu membawa cahaya pada perjalanan hidup siapa pun.

“Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Justru di sanalah kekuatan sejati diuji dan dibuktikan”

Related posts

Jerome Polin: Inspirasi dan Motivasi Generasi Muda

Ghinan Nafsi

Sang Penggerak Pemikiran Kritis Generasi Muda

Moh Juaeni Hisbullah

KH. Moh. Hasan Naufal: Menyalakan Semangat Santri di Tengah Arus Zaman

Anindya Ghania Safhira

Leave a Comment