Di sebuah sudut sederhana di Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang, deru obeng dan denting kecil komponen elektronik terdengar berpadu dengan semangat seorang pemuda bernama Suharto, atau yang akrab disapa Erwin. Di balik meja servis kecil bertuliskan Athaya Cell, tersimpan kisah ketekunan, kegigihan, dan keyakinan bahwa kesuksesan tak selalu lahir dari modal besar, melainkan dari tekad yang tak mudah runtuh.
Erwin bukanlah sosok yang langsung menikmati manisnya keberhasilan. Sebelum Athaya Cell berdiri kokoh seperti sekarang, ia sempat berkali-kali jatuh — kehilangan tabungan, kehilangan arah, bahkan hampir kehilangan keyakinan pada mimpinya. Di tengah sakit yang menggerogoti tubuhnya, trombositosis, Erwin justru menemukan titik balik hidupnya.
“Saya sudah lama membangun usaha Athaya Cell ini bahkan berkali-kali gagal sampai menghabiskan uang tabungan sendiri. Tapi setelah dapat bantuan modal dari Dinas Sosial Kota Tangerang, saya bertekad untuk bangkit dan memanfaatkannya sebaik mungkin,” ujar Erwin dengan senyum tipis namun penuh keyakinan.
Modal sebesar Rp20 juta dari pemerintah menjadi bahan bakar awal kebangkitannya. Namun, bukan angka itu yang membuat Athaya Cell tumbuh — melainkan semangat pantang menyerah di tengah keterbatasan yang menjadikannya inspirasi banyak orang.
Athaya Cell bukan sekadar tempat reparasi gadget. Ia adalah ruang harapan bagi mereka yang datang membawa perangkat rusak — dan pulang membawa rasa puas. Erwin menanamkan prinsip sederhana namun langka: kejujuran dan keterbukaan.
“Pelanggan bisa lihat langsung proses pembongkarannya. Saya percaya, semakin terbuka, semakin tinggi pula kepercayaan mereka,” ungkapnya.
Keterbukaan itu ternyata menjadi pembeda. Tak hanya warga sekitar, pelanggan dari luar Kota Tangerang pun berdatangan, sebagian besar mengenal Athaya Cell dari grup Facebook dan rekomendasi mulut ke mulut. Dalam sehari, Erwin bisa melayani 5 hingga 10 pelanggan, dengan omzet jutaan rupiah setiap bulannya.
Yang membuat Athaya Cell istimewa bukan hanya keahliannya memperbaiki segala merek gadget, tapi juga pelayanan 24 jam dan konsultasi gratis. Di saat banyak konter menutup pintu malam hari, Erwin justru menyalakan lampu terang di ruang servisnya — menandakan bahwa bantuan selalu tersedia bagi siapa pun yang membutuhkan.
Filosofi ini berangkat dari kesadarannya bahwa pelayanan terbaik tidak sekadar memperbaiki perangkat, tetapi juga menyentuh kepercayaan pelanggan.
“Saya ingin orang merasa tenang ketika datang ke sini. Gadget mereka bukan sekadar alat, tapi bagian dari hidup. Maka saya harus memperlakukannya dengan tanggung jawab,” tutur Erwin penuh keyakinan.
Kini, dari rumah sederhananya di Jalan Raden Fatah I Nomor 18, usaha rumahan itu telah tumbuh menjadi simbol kebanggaan. Setiap baut yang dikencangkan, setiap layar yang diperbaiki, seolah menjadi metafora tentang bagaimana hidup juga bisa dirakit ulang — selama ada keberanian untuk mencoba lagi.
Kisah Erwin bukan hanya tentang sukses berwirausaha, tetapi tentang semangat generasi muda yang tak menyerah pada keadaan. Ia membuktikan bahwa di balik kesulitan, selalu ada ruang untuk menyalakan harapan.
Dan mungkin, dari tangan-tangan kecil di bengkel gadget rumahan itu, lahir inspirasi besar bagi banyak anak muda di luar sana: bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti, melainkan alasan untuk berjuang lebih keras.