Fiksi

Malam Yang Kehilangan

Malam turun perlahan, membawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Angin berdesir, menggoyangkan tirai tipis di jendela kamar seorang gadis. Ia duduk sendirian di atas ranjang, menatap sebuah foto yang tergantung di dinding. Senyum dalam foto itu masih sama—penuh kehangatan, ketulusan, dan arti kehidupan. Namun, pemilik senyum itu tak akan pernah kembali.

Sejak kepergian orang yang dicintainya, malam selalu menjadi waktu paling berat. Siang hari gadis itu masih bisa menyibukkan diri, menenggelamkan rindu dalam aktivitas dan percakapan dengan orang lain. Tetapi ketika malam tiba, kesunyian datang bersama bayangan-bayangan kenangan yang menyesakkan dada.

“Kalau saja kau masih di sini…” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.

Perlahan ia meraih sebuah kotak kecil di meja. Di dalamnya tersimpan secarik kertas berisi tulisan tangan orang yang ia rindukan, sebuah catatan singkat yang dulu terasa sepele. Kini, tulisan itu menjadi harta paling berharga—satu-satunya pengingat bahwa sosok itu seakan masih berada di dekatnya.

Di luar jendela, bulan menggantung pucat, ditemani bintang-bintang yang redup. Gadis itu menatap langit, seolah mencari sosok yang telah hilang. Air matanya mengalir, namun kali ini ia tidak berusaha menghapusnya.

“Malam selalu jujur,” gumamnya. “Ia tak pernah bisa menutupi rinduku.”

Dalam kesunyian, ia akhirnya memejamkan mata. Ia tahu orang itu tak akan kembali. Namun, di setiap malam dan dalam setiap doa yang ia panjatkan, ia percaya cinta itu tak pernah benar-benar hilang—hanya berpindah tempat, dari dunia nyata ke langit yang penuh bintang.

Related posts

Menatap Langit Seperti Menatapmu Tersenyum

Sofita fita

Menemukan Kuatku di Balik Jarak

Vera Safera

Tentang Jarak dan Waktu

Dini Dwi Safitri

Leave a Comment