Sastra

Malam Terakhir di Bundaran Glaser

Malam itu, Bundaran Glaser tak berbeda dari biasanya — ramai, berkilau, dan hangat. Tapi bagi Mila, semuanya terasa pelan. Seolah-olah kota ini ikut menunduk perlahan, meredup dalam diam, karena tahu besok ia akan pergi.

Ia duduk di bangku beton di pinggir bundaran, mengenakan jaket hijau kesayangannya, tangan mengenggam secangkir kopi susu dari warung kaki lima tak jauh dari situ. Di sekelilingnya, suara gitar dari pengamen jalanan berpadu dengan suara tawa anak muda yang berlarian. Di kejauhan, lampu kendaraan melintas, menciptakan jejak cahaya yang seperti garis waktu — cepat, namun meninggalkan bekas.

Di depan air mancur yang menari pelan di bawah cahaya lampu warna-warni, Mila memejamkan mata. Ia mengingat semuanya — suara klakson, aroma gorengan dari pinggir jalan, bahkan retakan kecil di trotoar tempat ia pernah terjatuh saat pulang kuliah dalam hujan.Kota ini pernah menjadi pelariannya.
Dulu, ia pergi dari desa dengan penuh amarah dan luka — ingin membuktikan bahwa ia bisa hidup mandiri, jauh dari aturan dan pandangan miring tetangga. Di kota inilah ia menemukan kebebasan, tapi juga kesepian yang sunyi.
Kini, ia kembali bukan karena kalah, tapi karena sadar: pulang bukan berarti menyerah. Pulang adalah berdamai.

Seseorang duduk di sampingnya — nenek penjual bunga melati yang sering ia temui di sekitar bundaran. Wajahnya ramah, senyumnya lembut.

“Mau pindah, Nduk?” tanya sang nenek sambil menyerahkan setangkai melati kecil.

Mila mengangguk, menerima bunga itu dan mencium harumnya sambil meneteskan air mata , Harum yang mengingatkannya pada pelukan ibu, sore di teras rumah desa, dan wangi kasur yang dijemur pagi-pagi.

“Semoga tempat barumu membawa bahagia yang lama tertunda,” ucap sang nenek, lalu pergi perlahan, membaur dalam keramaian.

Mila tersenyum kecil, mata sedikit basah. Ia menatap air mancur terakhir kalinya malam itu, lalu berdiri.
Ia berjalan pelan, melewati keramaian, membawa tas kecil dan setangkai melati — kenangan kota yang akan ia simpan dalam-dalam.

[malam terakhirnya di kota bukan tentang perpisahan yang menyakitkan, tapi tentang keindahan menerima bahwa setiap tempat yang pernah disinggahi… akan selalu tinggal di dalam hati.]

Related posts

Aku dan Cinta yang Tak Kunjung Pulang

Imam Ghozali

Rindu Yang Membawaku Pulang

Ayu Puji Cahyani

Senyum di Balik Kaca: Sebuah Perjalanan Menerima Diri

Afifah Afifah

Leave a Comment