Di sudut kecil Desa Banjarasem, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali, suara kuas yang bergesekan di atas kanvas terdengar lembut di antara hembusan angin laut utara. Di ruangan sederhana itu, duduk seorang perempuan berusia 31 tahun dengan tubuh yang tak lagi sekuat dulu. Tangannya bergerak perlahan, tapi pasti, menorehkan warna-warna kehidupan. Namanya Kadek Wiwindari, atau akrab disapa Winda, pelukis penyandang disabilitas yang menjadikan keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya.
Winda terlahir dengan kelainan genetik muscular dystrophy, penyakit yang membuat otot-otot tubuhnya melemah dan sulit digerakkan. Tapi semangatnya justru semakin kuat. Sejak ayahnya meninggal pada 2014, Winda mengambil peran besar dalam keluarga. Ia menjadi tulang punggung bagi ibu dan keluarganya dengan satu hal yang paling ia cintai, melukis.
Awalnya, Winda hanya menggambar menggunakan pulpen dan kertas seadanya. Hingga seorang pengusaha asal Nusa Dua, Santiawan, melihat bakatnya dan memberikan modal berupa kanvas serta alat-alat melukis. Dari situlah, perjalanan seninya dimulai.
“Dulu waktu awal-awal melukis cuma pakai kertas dan pulpen, lalu ada bapak Santiawan yang bantu alat-alat lukisnya. Dari situlah saya mulai belajar di atas kanvas, lalu di-upload di Facebook, ternyata banyak yang berminat,” kenang Winda sambil tersenyum. Karya-karya Winda banyak menggambarkan kehidupan khas Bali, penari tradisional, petani di sawah, hingga suasana pasar yang ramai.Setiap goresan kuasnya bukan sekadar gambar, tapi cerita tentang semangat hidup dan cinta tanah kelahiran. Warna-warna cerah yang ia pilih seolah menjadi refleksi dari jiwanya yang tetap hangat meski fisiknya rapuh.
Keahliannya tak didapat dari sekolah seni atau kursus mahal. Ia belajar secara otodidak, hanya berbekal rasa ingin tahu dan ketekunan.Kini, lukisannya tak hanya diminati masyarakat lokal, tapi juga pembeli dari luar negeri seperti Amerika Serikat. Dalam sebulan, Winda bisa menjual dua lukisan ukuran besar dengan harga antara Rp3 juta hingga Rp4 juta. Dari hasil itu, ia bahkan menyisihkan 10 persen untuk donasi, membantu penyandang disabilitas lain yang membutuhkan.
Bagi Winda, setiap lukisan yang selesai dibuat bukan sekadar karya seni, tapi simbol perjuangan. “Kalau saya berhenti, siapa lagi yang akan bantu keluarga saya? Melukis itu cara saya bersyukur,” ucapnya pelan. Kini, meski tubuhnya semakin terbatas bergerak, semangatnya justru semakin luas menjangkau banyak orang. Dari ujung Buleleng, ia mengajarkan bahwa keindahan sejati bukan soal kesempurnaan fisik, tapi keberanian untuk tetap berjuang dalam keterbatasan.
Lewat goresan kuasnya, Kadek Wiwindari menorehkan lebih dari sekadar gambar, ia melukis harapan dan keteguhan hati. Di tengah dunia yang sering kali memandang rendah disabilitas, Winda membuktikan bahwa setiap orang bisa menjadi pelukis bagi hidupnya senabadi Dari tangan yang lemah lahir karya yang kuat, dan dari hati yang tabah terpancar keindahan yang abadi.