Di sebuah desa kecil bernama Tebuireng, Jombang, pada awal abad ke-20, suara lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar lembut mengalun dari sebuah pesantren sederhana. Di situlah seorang ulama besar, Kyai Hasyim Asy’ari, menanamkan benih keilmuan dan semangat kebangsaan yang kelak menjadi sumber cahaya bagi umat dan bangsa Indonesia.
Kyai Hasyim bukan sekadar sosok ulama. Ia adalah pemersatu antara iman dan perjuangan, antara ilmu agama dan cinta tanah air. Lahir pada 14 Februari 1871 di Desa Gedang, Jombang, beliau tumbuh dalam keluarga yang taat beragama. Sejak muda, semangatnya untuk menuntut ilmu tak pernah padam. Dari pesantren satu ke pesantren lain ia menimba ilmu, hingga akhirnya menuntut ilmu di Makkah selama tujuh tahun. Di tanah suci itulah semangat keislaman dan kebangsaannya semakin kuat.
Sekembalinya ke tanah air, Kyai Hasyim mendirikan Pesantren Tebuireng pada tahun 1899. Pesantren itu bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan semangat kebangsaan. Di bawah asuhannya, ribuan santri dididik dengan nilai ikhlas, disiplin, dan cinta tanah air.
Namun, peran terbesar Kyai Hasyim tidak berhenti di dunia pendidikan. Saat bangsa Indonesia masih dijajah Belanda dan Jepang, beliau tampil sebagai ulama pejuang. Ia tidak tinggal diam melihat penderitaan rakyat. Dari tangannya, lahir gagasan besar: Nahdlatul Ulama (NU), sebuah organisasi Islam yang memperjuangkan agama sekaligus kemerdekaan bangsa.
Ketika bangsa ini berada di ambang perang melawan penjajahan, Kyai Hasyim mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Seruan itu membakar semangat umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan. “Berjuang melawan penjajah adalah bagian dari jihad fi sabilillah,” begitu pesannya yang menggema dari surau hingga medan pertempuran.
Kini, nama Kyai Hasyim Asy’ari tidak hanya tercatat dalam buku sejarah, tetapi juga tertanam dalam hati jutaan umat. Nilai-nilai perjuangan dan ketulusannya hidup dalam setiap santri, setiap doa, dan setiap langkah anak bangsa yang mencintai Indonesia.Tebuireng bukan lagi sekadar pesantren, melainkan simbol perjuangan seorang ulama yang mengajarkan bahwa agama dan nasionalisme dapat berjalan seiring. Dari tempat itulah, cahaya ilmu dan semangat cinta tanah air terus memancar, menerangi generasi demi generasi.