Matahari sudah tenggelam, langit merona jingga, dan angin sore membawa tanda waktu magrib kian dekat. Di mushola, Nafisah, santri senior, sudah duduk dengan mushaf terbuka di pangkuannya. Namun, hatinya resah. Mushola yang dahulu semarak dengan bacaan Qur’an kini sunyi, seolah ayat-ayat Allah tergeser dari tempatnya. Ia menoleh ke arah asrama. Dari sana, terdengar suara riuh santri-santri junior. Mereka duduk bergerombol di depan kamar, sibuk bercerita tentang tren yang mereka ikuti saat liburan.
Sinta (Santri Junior 1): “Eh, kalian lihat nggak pas liburan? Orang-orang rame banget ikut dance challenge itu. Semua pada upload di TikTok, viral banget!”
Keira (Santri Junior 2): “Iya, aku juga sempat coba. Seru banget rasanya. Ditambah tren baju baru ala artis Barat itu, jadi makin keren kalau di-post.”
Mereka larut dalam cerita, canda, dan tawa. Seolah waktu magrib tak lagi penting.
Dari mushola, Nafisah menghela napas panjang. Ia bangkit, lalu melangkah pelan mendekati mereka. Tatapannya tak marah, tapi penuh keprihatinan.
Nafisah: “Adik-adik bukankah sebentar lagi magrib? Mengapa mushola masih sepi?”
Santri-santri itu terdiam sejenak. Sebagian menunduk, sebagian mencoba tersenyum.
Lika (Santri Junior 3): “Kami tadi cuma cerita, Kak. Tentang tren baru yang lagi viral.”
Nafisah tersenyum tipis.
Nafisah: “Tren memang menghibur, apalagi yang datang dari Barat selalu tampak menarik. Tapi, tidakkah kalian sadar sedikit demi sedikit, ayat-ayat Qur’an yang dulu mengisi mushola ini tergeser oleh cerita dan tren yang tidak ada habisnya? Dulu, sebelum adzan, mushola sudah ramai. Kini, lebih ramai tawa dunia daripada lantunan ayat suci.”
Kata-kata itu menampar hati para junior. Mereka saling berpandangan, wajahnya berubah.
Sinta menunduk dalam-dalam, lalu berbisik lirih:
“Kak kami lupa diri. Terlalu hanyut mengikuti apa yang dinormalisasi orang-orang di luar sana. Mulai sekarang, biarlah mushola ini yang pertama kami datangi.”
Nafisah tersenyum lega. Ia berbalik menuju mushola, diikuti para junior yang kini menunduk penuh insaf.
Tak lama, suara bacaan Qur’an mulai terdengar. Satu demi satu santri mengisi mushola, menebarkan kembali cahaya yang sempat meredup.
Senja itu, mushola bukan lagi tempat yang sepi. Ia kembali hidup bukan oleh tren yang menyesakkan, tapi oleh ayat-ayat suci yang menenangkan jiwa.