Insight

Ketika Dunia Riuh, Ibu Tetap Menjadi Rumah

Seiring bertambahnya usia, aku semakin menyadari bahwa hidup tidak pernah berjalan setenang yang kubayangkan saat kecil. Ada hari-hari ketika langkah terasa berat, ketika dunia menuntut lebih banyak dari yang mampu kuberikan, dan ketika suara-suara dari luar membuatku meragukan setiap pilihan yang aku ambil. Namun di tengah gelombang itu semua, ada satu sosok yang selalu membuat merasa kembali utuh, dia adalah Mama.

Aku tumbuh bersama seorang Mama yang memikul banyak hal tanpa pernah bersuara keras. Ia tidak pernah bercerita panjang tentang kesulitannya, tetapi aku melihatnya dari cara ia berjalan pulang dengan tubuh letih, dari cara ia menahan air mata ketika merasa tidak cukup, dan dari cara ia tetap tersenyum agar aku tidak ikut khawatir. Ia adalah perempuan yang mengajarkanku arti keteguhan tanpa perlu ceramah, dan arti cinta tanpa perlu pengakuan.

Kedekatanku dengannya terbangun dari banyak momen kecil yang dulu terasa biasa saja, tapi kini terasa sangat besar. Dari caranya membenarkan kerah bajuku sebelum pergi sekolah. Dari tatapannya setiap kali aku pulang lebih larut dari biasanya. Dari cara ia mengelus rambutku saat aku sakit padahal tubuhnya sendiri jauh lebih lelah. Dan dari bisikannya yang hampir tidak terdengar, ketika ia berkata, “Mama cuma ingin Dhita bahagia.”

Seiring waktu berjalan, aku mulai mengerti bahwa ia tidak hanya menjadi Mama, ia juga menjadi alasan. Alasan aku berusaha, alasan aku berdiri lagi setelah jatuh, alasan aku menahan diri agar tidak menyerah pada rasa takut. Ia selalu memberikan dorongan dengan cara paling sederhana, bukan dengan janji, tetapi dengan kehadirannya yang selalu ada ketika aku merasa dunia terlalu asing untuk ditempati.

Ada satu kenangan yang selalu melekat di kepalaku. Suatu malam, ketika aku pulang dengan hati remuk karena merasa gagal, Mama tidak menanyaiku apa-apa. Ia hanya mendekat, meletakkan tangannya di pundakku, dan berkata, “Tidak apa-apa, yang penting Dhita sudah berusaha.. dan itu cukup.” Kata-kata itu sederhana, tetapi justru di situlah kekuatannya. Dunia sering meminta kita untuk selalu menjadi lebih, tetapi Mama mengingatkanku bahwa menjadi manusia yang mencoba saja sudah merupakan keberanian besar.

Dan kini, ketika aku melangkah ke dunia yang semakin riuh dengan tuntutan, kabar buruk, persaingan, dan ketakutan-ketakutan yang sulit dijelaskan, aku sering merasa kehilangan arah. Namun setiap kali aku hampir tenggelam dalam suara-suara yang membuatku ragu, aku selalu teringat pada Mama, pada wajahnya yang penuh kesabaran, pada suaranya yang menenangkan, pada perjuangannya yang tak pernah ia ceritakan, dan pada kasihnya yang tidak pernah meminta balasan.

Bagi banyak orang, rumah adalah bangunan. Tapi bagiku, rumah adalah sosok. Rumah adalah tangan yang menggenggamku saat aku takut. Rumah adalah pelukan yang membuat dunia terasa kecil dan tidak lagi menakutkan. Rumah adalah sosok yang selalu menunggu, walaupun aku berulang kali tersesat dalam keinginan-keinginanku sendiri.

Itulah alasannya, bagaimana pun bisingnya hidup, bagaimana pun kerasnya kenyataan, dan bagaimana pun beratnya perjalanan ini, Mama tetap menjadi rumah. Tempat aku kembali memahami diriku sendiri. Tempat aku menemukan ketenangan yang tidak bisa diberikan kepada siapa pun. Tempat aku belajar bahwa kasih sayang yang tulus bisa menyembuhkan hal-hal yang bahkan tidak bisa kujelaskan.

Ketika dunia riuh, aku hanya perlu mengingat satu hal, aku punya rumah yang tidak akan pernah roboh, dan rumah itu bernama Mama.

Related posts

Harvey Moeis Dieksekusi ke Lapas Cibinong, Jalani Vonis 20 Tahun Penjara Kasus Timah

Alek Permadani

Dian Sastrowardoyo: Sosok Cerdas, Inspiratif, dan Berpengaruh di Dunia Seni dan Pendidikan

Zida Sabrina

Setiap langkahku berdiri di atas doa mereka, setiap tujuanku hidup dari restu yang tak pernah padam

Nur Hayaty

Leave a Comment