Feature

Kenangan Manis di Pesantren: Senangnya Hidup Mondok yang Kini Tinggal Cerita

Hidup di pondok pesantren adalah pengalaman yang tak terlupakan bagi banyak orang, termasuk saya. Awalnya, keinginan mondok datang dari rasa ingin mandiri dan mengikuti jejak saudara, serta ingin merasakan suasana belajar di lingkungan yang berbeda dari keluarga. Saat pertama kali menginjakkan kaki di pondok, hati campur aduk antara senang dan rindu rumah.

Hari-hari di pesantren penuh dengan aktivitas yang padat dan teratur. Bangun subuh untuk salat tahajud, sekolah di pagi hari, ngaji sore, dan banyak kegiatan lainnya yang mengajarkan disiplin dan tanggung jawab. Meskipun ada masa-masa sulit seperti rindu keluarga atau peraturan yang ketat, kebersamaan dengan teman-teman membuat hidup mondok terasa hangat dan penuh kasih sayang layaknya keluarga baru.

Mondok mengajarkan saya arti kemandirian dan persahabatan sejati. Dalam kesibukan belajar dan beribadah, saya belajar menghargai waktu dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Senangnya hidup mondok bukan hanya tentang belajar agama atau disiplin, tapi tentang ikatan sosial dan pengalaman hidup yang membentuk karakter.

Kini, meskipun sudah tidak mondok lagi, kenangan manis itu tetap membekas. Saya membawa pelajaran dan nilai-nilai dari pesantren ke kehidupan sehari-hari. Berhenti mondok bukan berarti meninggalkan semuanya, melainkan melanjutkan perjalanan hidup dengan bekal pengalaman yang tak ternilai. Cerita mondok selalu menjadi bagian berharga dalam perjalanan hidup saya yang penuh warna dan makna.

Related posts

FOMO vs JOMO, Menemukan Keseimbangan di Era Media Sosial

Sri Wahyuni

“Belajar dan Berkarier: Kisah Inspiratif Dew Jirawat yang Tak Lupa Pendidikan “

Jamilatuz Zahro

Aksi Penarikan Motor Secara Paksa Kembali Terjadi di Wilayah Kabupaten Probolinggo

Lukmanul Hakim

Leave a Comment