Sastra

Kebebasan yang Tak Semanis Mimpi

Sebelum aku mondok, hidupku terasa hangat dan penuh tawa. Setiap hari aku makan bersama keluarga, duduk melingkar sambil mendengarkan cerita ibu dan candaan ayah yang tak pernah gagal membuatku tertawa. Ayah selalu jadi orang yang paling dekat denganku kalau aku berselisih dengan ibu, ayah pasti membelaku dengan cara yang lembut. Rumah terasa damai dan menyenangkan. Tak ada tekanan, tak ada aturan yang mengekang. Semua terasa bebas dan ringan dijalani.

Tahun 2018, ketika aku masuk SMP, aku memutuskan untuk mondok. Aku lupa tanggal pastinya, tapi aku masih ingat jelas perasaanku saat itu antara semangat dan gugup. Dunia pondok benar-benar berbeda dari rumah. Setiap pagi harus bangun sebelum subuh untuk salat berjamaah, lanjut mengaji, tadarus, dan hafalan. Siang hari sekolah, sore mengulang hafalan lagi, malam tadarus sampai larut. Kalau mau mandi harus antre panjang, kalau makan juga harus sabar menunggu giliran sambil membawa piring sendiri. Semua serba diatur, dan kadang rasanya seperti tidak punya waktu untuk diri sendiri.

Namun di balik itu semua, ada suasana yang sulit dilupakan. Suara lantunan Al-Qur’an di setiap sudut, teman-teman yang saling menyemangati, dan rasa kebersamaan yang hangat meski dalam kesederhanaan. Tapi, tak bisa kupungkiri, tekanan dan rasa lelah sering datang. Ada kalanya aku ingin menyerah, ingin pulang, ingin kembali makan bareng keluarga, bercanda dengan ayah, atau sekadar tidur siang tanpa aturan.

Waktu berlalu cepat. Aku terus berjuang sampai akhirnya tiba saat yang kutunggu, hari kelulusan dari pondok. Hari itu terasa sangat istimewa. Pengasuh mengadakan acara perpisahan besar untukku dan kedua temanku. Seluruh santri dikumpulkan di aula pondok, suasananya haru dan penuh kenangan. Karena aku menjadi salah satu pengurus pondok, acara kelulusanku pun dirayakan dengan cara yang berbeda. Ada ucapan terima kasih dari adik-adik santri, ada pelukan hangat, ada air mata yang tak bisa kutahan. Rasanya campur aduk antara bahagia, bangga, dan sedih yang sulit dijelaskan. Saat semua berdiri dan mengucapkan selamat berpisah dan semoga sukses diluar sana, aku benar-benar merasa bahwa inilah akhir dari satu bab penting dalam hidupku.

Setelah kelulusan itu, ketika malam terasa sunyi, aku teringat pada keluargaku di rumah. Aku membayangkan wajah ayah yang selalu tersenyum menyapaku, ibu yang menyiapkan makanan kesukaanku, dan suasana rumah yang penuh kehangatan. Rasa rindu itu menelusup pelan, seperti luka lama yang kembali terasa. Aku sadar, meskipun pondok penuh aturan, di sanalah aku belajar menahan rindu dan menghargai arti kebersamaan.

Ketika aku mengucapkan kata “lulus,” aku merasa seperti burung yang akhirnya dilepaskan dari sangkar. “Inilah kebebasan,” pikirku waktu itu. Tapi ternyata, kebebasan itu tidak semanis yang kubayangkan.

Setelah keluar dari pondok dan aku memutuskan untuk masuk kuliah, hidupku memang lebih bebas tapi justru karena terlalu bebas, aku sering kehilangan arah. Tidak ada yang menyuruh belajar, tidak ada yang membangunkan salat subuh, tidak ada yang mengingatkan hafalan, dan tidak ada lagi kebersamaan yang dulu selalu terasa. Di kampus, semua berjalan cepat dan dingin. Aku bebas, tapi hampa.

Kini aku justru sering merindukan kehidupan di pondok. Rindu suasana pagi yang penuh doa, rindu antre mandi sambil bercanda dengan teman, rindu suara tadarus di malam hari yang menenangkan hati. Pondok yang dulu kuanggap mengekang, ternyata justru tempat aku belajar tentang makna hidup, kebersamaan, dan kedisiplinan.

Dan sekarang aku sadar, kebebasan sejati bukan berarti bisa melakukan apa pun yang kita mau, tapi mampu menahan diri dan tetap berjalan di jalan yang benar seperti yang diajarkan pondok dulu.

Related posts

Mimpi yang Tertinggal di Ruang Praktikum

Zida Sabrina

Rindu Yang Membawaku Pulang

Ayu Puji Cahyani

Jomblo Happy: Menemukan Kebahagiaan dalam Kesendirian

Ghinan Nafsi

Leave a Comment