Feature

Kebebasaku, Pilihanku: Perjalanan Nana Menolak Pernikahan Anak

Saat hujan tipis menyiram halaman sekolahnya di Makassar, Nana (17) berdiri menatap pegunungan di kejauhan dan menarik napas panjang. Dua tahun lalu, di usianya yang masih 15, ia menghadapi dua lamaran pernikahan — tawaran yang membuatnya tertekan dan takut akan masa depan yang tercuri sebelum ia sempat mengecap kebebasan masa remaja. Namun, dengan keberanian yang tumbuh pelan, Nana berkata “tidak”.

Nana sudah merasakan bagaimana harapan keluarga dan tradisi bisa menjadi beban terselubung. Saat dua lamaran datang, ia merasa bingung dan takut, terutama takut tidak bisa meneruskan sekolah dan kehilangan hak-haknya sebagai remaja. “Aku memberi tahu orang tuaku bahwa aku masih ingin menikmati masa muda. Aku masih ingin bermain, menjadi bebas,” kenangnya. Satu hal yang menjadi titik balik adalah ketika Nana ikut program dari UNICEF dan mitranya yang mengajarkannya tentang risiko pernikahan anak—bagaimana pernikahan di usia dini bisa menghentikan pendidikan, membatasi peluang kerja, bahkan berdampak pada kesehatan mental dan fisik. Ia mulai memahami bahwa pilihan-pilihannya sekarang bisa menentukan masa depannya.

Keputusan Nana untuk menolak lamaran itu nggak mudah. Ada tangisan, ketakutan, butuh waktu untuk membangun keberanian. Tapi keluarga, setelah mendapat pemahaman dari edukasi program, mulai menerima. Dukungan mereka menjadi sangat penting. Ia juga ikut di workshop pelatihan pemuda (“Training of Trainers / TOT”) di Makassar yang memperkuat kepercayaan dirinya. Sekarang Nana duduk di bangku kelas dua SMA. Jadwalnya padat: sekolah, aktivitas ekstrakurikuler, dan program-program advokasi. Cita-citanya: menjadi hakim. Bukan hanya untuk karier, tapi agar bisa menjadi suara keadilan bagi anak-anak perempuan lain yang mungkin terjebak dalam keputusan yang bukan pilihan mereka. “Aku ingin menjadi seseorang yang bermanfaat, bagi keluargaku dan bagi bangsa.”

Nana menunjukkan bahwa meskipun tradisi kuat, remaja tetap punya hak untuk menentukan masa depannya.Tanpa pendidikan, impian dan potensi sulit berkembang. Keberanian satu anak bisa berdampak lebih luas jika didukung oleh lingkungan sekitarnya.

Di tengah perubahan yang lambat namun nyata, kisah Nana bukan hanya soal menolak pernikahan anak. Ini soal suara remaja yang bangkit, soal impian kecil yang dipelihara. “Jika aku tidak melakukannya, aku tidak akan sebebas sekarang—bermain dengan teman-teman, belajar, pergi ke luar,” katanya. Dan mungkin, sekarang banyak remaja lain yang mulai berkata “tidak”—karena mereka juga masih ingin bermain, ingin bebas.

Related posts

Mengejar Mentari di Lautan Pasir: Perjalanan Lanjutan ke Gunung Bromo

Jamilatuz Zahro

Bawang Merah Probolinggo Semakin Diburu, Petani Akui Mutunya Stabil dan Tahan Lama

Jamilatuz Zahro

Ketika Sihir Hogwarts Menyentuh Generasi Digital

Seftiana Sya'baniah

Leave a Comment