Berita

Jejak Kesabaran di Setiap Langkah Belajar

Senandung Ketelatenan Bu Nur Azizah

Di sebuah sekolah sederhana yang dikelilingi pohon-pohon jati, ada seorang guru yang namanya selalu diingat oleh murid-muridnya: Bu Nur Azizah. Beliau tidak hanya dikenal sebagai pengajar, tetapi sebagai pelita yang menuntun langkah setiap anak dalam memahami dunia.

Setiap pagi, Bu Nur Azizah datang lebih awal daripada siapa pun. Ia membuka jendela kelas, membiarkan cahaya matahari masuk perlahan, seakan mempersiapkan ruang belajar penuh harapan. Ketika murid-murid mulai berdatangan, senyumnya selalu yang pertama menyambut—senyum yang menenangkan, seolah berkata bahwa tidak ada masalah yang terlalu besar untuk dihadapi bersama.

Bu Nur Azizah punya satu ciri yang sangat melekat: kesabaran tanpa batas. Ketika murid-murid kesulitan memahami pelajaran, beliau tidak pernah mengeluh. Ia akan duduk di samping mereka, menjelaskan kembali dengan suara lembut, perlahan, sampai mata anak itu berbinar tanda mengerti. “Tak apa pelan-pelan,” katanya, “belajar itu seperti menanam. Yang penting dirawat, tumbuhnya pasti.”

Ketelatenannya juga membuat suasana kelas berbeda. Ia dapat mengubah pelajaran yang sulit menjadi cerita menarik, menyulap kebingungan menjadi rasa ingin tahu. Murid-muridnya tahu bahwa di dalam kelas Bu Nur Azizah, mereka tidak perlu takut salah. Beliau selalu berkata, “Kesalahan adalah langkah pertama menuju pintar.”

Suatu hari, ada seorang murid yang hampir menyerah karena nilai ulangannya buruk. Dengan mata berkaca, ia berkata, “Bu, saya tidak bisa.” Tapi Bu Nur Azizah hanya tersenyum, meletakkan tangan di bahu murid itu, dan berkata, “Yang tidak bisa hanya butuh waktu. Ibu percaya kamu bisa, asal kamu percaya dulu pada dirimu sendiri.” Kata-kata itu menjadi penyemangat baru, membuat murid itu bangkit kembali dan perlahan-lahan membuktikan dirinya mampu.

Tidak heran, bagi banyak murid, Bu Nur Azizah lebih dari sekadar guru. Ia adalah pendengar, penyemangat, dan sahabat belajar. Setiap ajarannya tidak berhenti di buku pelajaran, tetapi meresap ke hati dan menjadi pedoman hidup.

Dan hingga kini, ketika murid-muridnya tumbuh dewasa dan melangkah ke jalan masing-masing, nama Bu Nur Azizah tetap mereka kenang sebagai sosok yang menuntun mereka dengan cahaya kesabaran dan ketelatenan. Beliau mungkin hanya satu orang, tetapi dalam hati murid-muridnya, beliau telah menjadi inspirasi sepanjang masa.

Related posts

Longsor Tutup Total Jalur Pacet–Cangar Mojokerto

Na ifa

Semburan Air Misterius Gegerkan Warga Gunung Anyar Surabaya

Intan Faiqotul laili

POLITIK ADALAH KENISCAYAAN DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA

Imam Ghozali

Leave a Comment