Berita

Inovasi Suweg Lapis Genggong: Transformasi Umbi Tradisional Menjadi Kuliner Unggulan Probolinggo

Suweg, yang asal katanya dari bahasa Jawa dan kemudian menjadi bagian dari kosakata Indonesia, kini semakin jarang dikenal sebagai bahan pangan lokal, meskipun tanaman ini sebenarnya sangat mudah tumbuh tanpa perawatan khusus dan dahulu cukup populer pada era 1950-an sebagai pangan musiman. Berbanding terbalik dengan kondisi di Indonesia, India justru menempatkan suweg sebagai komoditas penting, terbukti dari banyaknya istilah dalam berbagai bahasa daerah serta tingginya produksi dari berbagai negara bagiannya yang mencapai ratusan ribu ton setiap tahun.

Selain dimanfaatkan sebagai bahan makanan dengan harga terjangkau, suweg di India juga digunakan sebagai bahan obat tradisional Ayurveda, sehingga sering dikeringkan atau diolah menjadi tepung bernilai jual. Di Indonesia, rendahnya pemanfaatan umbi suweg bukan disebabkan oleh kesulitan budidaya, melainkan karena tidak adanya industri pengolahan yang menopang dan minimnya inovasi kuliner yang membuat masyarakat melupakan potensi gizi umbi ini. Padahal suweg memiliki keunikan biologis, mulai dari bentuk umbinyanya yang dipenuhi mata tunas, cara petani menanamnya kembali dengan menyisakan bagian kulit, hingga kemampuannya menghasilkan bunga bangkai beraroma menyengat yang berguna untuk proses penyerbukan.

Ketika sebagian masyarakat kota menanam suweg hanya untuk menunggu bunganya yang eksotis, pemanfaatan umbinya sebagai bahan makanan justru semakin berkurang. Situasi inilah yang kemudian mendorong lahirnya inovasi dari Kabupaten Probolinggo melalui Pesantren Zainul Hasan Genggong yang berhasil mengolah suweg menjadi Suweg Lapis Genggong, yaitu kue brownis berbahan dasar umbi suweg sebagai pengganti tepung terigu. Proses penciptaannya dimulai sejak tahun 2018 melalui riset panjang yang melibatkan para santri untuk mempelajari karakteristik suweg, menguji rasa, mencari formula adonan yang tepat, hingga menentukan konsep kemasan yang menarik. Setahun kemudian, di tahun 2019, lahirlah produk akhir berupa kue lapis yang lembut, beraroma khas umbi suweg, dan memiliki rasa manis alami yang berbeda dari brownis konvensional.

Inovasi tersebut terus dikembangkan dengan menghadirkan beragam varian rasa seperti Coco Cheese, Coco Meses, Coco Pandan, serta Pandan Coco Crunch yang menjadikannya lebih sesuai dengan selera masyarakat modern. Kehadiran Suweg Lapis Genggong bukan hanya memperkenalkan kembali suweg sebagai bahan pangan bernilai tinggi, tetapi juga menjadi contoh sukses bagaimana pesantren mampu mendorong kemandirian ekonomi, memberdayakan santri, serta memanfaatkan kekayaan alam lokal menjadi produk unggulan Probolinggo yang diminati wisatawan maupun masyarakat. Dengan demikian, inovasi ini menegaskan bahwa bahan pangan tradisional yang nyaris terlupakan dapat diubah menjadi kuliner kreatif dan bernilai ekonomi tinggi melalui riset, kreativitas, dan kerja sama komunitas.

Related posts

Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia UNZAH Ramaikan Indonesia International Book Fair 2025 dengan Buku “Pelangi Nusantara”

Seftiana Sya'baniah

Kenny Austin dan Amanda Manopo Resmi Menikah pada 10 Oktober 2025

Bela Dwi Lestari

Grup Idola Thailand Jasper Resmi Debut, Gaet Perhatian Penggemar Asia

Jamilatuz Zahro

Leave a Comment