Feature

Fenomena Brain Rot: Ketika Otak Kita Leleh di Ujung Jempol

Pukul 23.10 malam. Di kamar yang hanya diterangi cahaya layar ponsel, Lily masih tergelak menonton video singkat di TikTok. Awalnya ia hanya ingin “scroll sebentar” sebelum tidur. Tapi dua jam berlalu, matanya berat, pikirannya kosong, dan rasa bersalah pelan-pelan muncul: tugas kuliah tak tersentuh, tapi otaknya terasa penuh oleh hal-hal acak yang bahkan tak ia ingat.

Fenomena seperti itu bukan hal asing lagi. Dari siswa SMA sampai mahasiswa, hampir semua mengalaminya — brain rot, istilah yang kini viral di internet. “Otak busuk” dalam konteks digital ini bukan penyakit, melainkan keadaan ketika otak terlalu sering dimanjakan oleh konten cepat dan instan hingga kehilangan daya fokus dan refleksi.

Satu geser jari memberi ledakan kecil dopamin — rasa senang instan. Dalam beberapa detik, kita bisa tertawa, kagum, bahkan sedih. Tapi begitu video selesai, otak langsung menuntut sensasi baru. Begitulah algoritma bekerja: memberi kenikmatan cepat agar kita terus menggulir, terus terjebak.

Bagi banyak orang, scrolling terasa seperti hiburan ringan. Namun tanpa sadar, itu jadi pelarian halus dari stres, kesepian, dan tekanan hidup. Saat sedih, cemas, atau takut gagal, kita membuka layar. Bukannya menghadapi emosi, kita menenggelamkannya dalam deretan video yang tak berujung.

“Dulu saya bisa duduk baca buku berjam-jam,” kata Dita pelan, “sekarang baca dua halaman aja udah pengin buka HP.”Cerita Dita mewakili generasi yang tumbuh di tengah gempuran informasi cepat. Generasi yang tahu banyak hal, tapi sulit benar-benar memahami.

Menurut sejumlah ahli, fenomena ini berkaitan dengan penurunan kemampuan otak dalam mengatur dopamin, hormon pemicu rasa senang. “Ketika stimulasi datang terus-menerus dari layar, otak kehilangan keseimbangan alami. Ia jadi terbiasa dengan kesenangan instan dan menolak tantangan yang butuh waktu,” ungkap seorang dosen psikologi komunikasi dalam kanal edukasi digital.

Namun otak bukan mesin rusak yang tak bisa diperbaiki. Ia hidup, lentur, dan bisa tumbuh kembali lewat neuroplasticity. Caranya sederhana — tapi butuh tekad: mulai batasi waktu layar, biasakan membaca meski sebentar, dengarkan musik tanpa sambil buka ponsel, atau sekadar menikmati hening tanpa notifikasi.

Ketenangan bukan berarti membosankan, tapi memberi ruang bagi pikiran untuk bernapas. Karena kalau terus dibiarkan, bukan cuma waktu yang hilang, tapi juga kendali atas diri sendiri.

Jadi, lain kali jari kamu mulai otomatis menggulir layar tanpa arah, berhenti sejenak. Lihat sekitar. Tarik napas panjang.Lalu tanya ke diri sendiri:

“Yang aku kasih makan sekarang… otakku, atau egoku?”

Related posts

Kisah Haru Kapal Tebu di Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H

Nur Hayaty

Musim Tembakau, Pasar Semampir Kembali Ramai Dipadati Warga

Febriyanti Adelia

Keindahan Taman Hidup Argopuro, Surga Tersembunyi di Lereng Gunung

Ananda Novalia Putri

Leave a Comment