Jakarta, Sebuah perbincangan dalam podcast Ferry Irwandi bersama dr. Sita Laksmi baru-baru ini menarik perhatian publik setelah membahas klaim yang menyebut bahwa perokok pasif lebih berbahaya daripada perokok aktif. Dalam penjelasannya, dr. Sita menegaskan bahwa pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar dan sering disalahartikan oleh masyarakat.
Menurut dr. Sita, memang benar bahwa perokok pasif memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker paru-paru dibanding orang yang sama sekali tidak terpapar asap rokok. “Perokok pasif memiliki risiko sekitar empat kali lipat lebih besar dibanding non-perokok,” ujarnya. Namun, dr. Sita menambahkan bahwa perokok aktif justru menghadapi risiko yang jauh lebih besar, yaitu sekitar tiga belas kali lipat lebih tinggi mengalami kanker paru-paru dibanding orang yang tidak merokok sama sekali.
Penjelasan ini menjadi klarifikasi atas informasi keliru yang beredar luas di media sosial, yang sering kali menyebut bahwa perokok pasif lebih berbahaya daripada perokok aktif. dr. Sita menegaskan bahwa keduanya sama-sama berisiko, namun secara medis, perokok aktif tetap menanggung bahaya yang lebih besar karena paparan zat berbahaya terjadi secara langsung dan berulang kali.
Dengan adanya penjelasan tersebut, isu mengenai bahaya perokok pasif dan aktif dapat dipahami secara lebih proporsional berdasarkan data medis yang akurat.